Bagi Palestina, Tak Ada Kesepakatan Abad Ini

"The Deal of the Century" atau "Kesepakatan Abad Ini" yang dikeluarkan Amerika Serikat dan Israel menuai banyak kecaman. Kesepakatan sepihak ini dinilai merugikan Palestina, baik secara wilayah maupun kedaulatan ekonomi.

Bagi Palestina, Tak Ada Kesepakatan Abad Ini' photo
Pengunjung memenuhi kompleks Masjid Al-Aqsa di Baitul Maqdis, atau yang dikenal dengan nama Yerusalem. Pekan ini, suara rakyat Palestina kembali menyeruak. Mereka menolak tegas Yerusalem sebagai ibu kota Israel. (Quds News Network)

ACTNews, YERUSALEM  Amerika Serikat menyebut Yerusalem merupakan ibu kota Israel. Pernyataan itu merupakan bagian dari "The Deal of The Century" atau “Kesepakatan Abad Ini” yang ditandatangani pada Selasa (28/1). Sebuah kesepakatan yang diambil secara sepihak dan merugikan Palestina.

Melansir dari aa.com.tr, kesepakatan itu menyebut Yerusalem akan tetap menjadi ibu kota berdaulat negara Israel. Yerusalem juga akan dibagi ke Palestina, namun titik penting di Yerusalem masih di bagian Israel.

Bagi bangsa Palestina, tidak ada "Kesepakatan Abad Ini" yang benar-benar membela mereka. Selama ini pun Israel terus melakukan tekanan ke warga Palestina yang tinggal di Yerusalem. Mereka mendapatkan kekerasan hingga perampasan aset, khususnya tempat tinggal. “Israel terus mengambil rumah-rumah di sini, baik dengan pemaksaan atau dengan cara halus yang mencekik pemukim warga Palestina,” ungkap Yahya*, salah satu penduduk Palestina yang tinggal dekat kompleks Masjid Al-Aqsa pada Januari lalu.

Kesepakatan sepihak dari Amerika Serikat dan Israel ini, jelas sangat merugikan Palestina. Tak hanya masalah wilayah, tapi juga kehidupan yang bakal mempengaruhi perekonomian mereka. Di wilayah Yerusalem yang dihuni penduduk Palestina, berbagai kebutuhan meningkat harganya, bahkan untuk sewa tempat tinggal. Belum lagi teror-teror yang dilakukan Israel agar penduduk Palestina tak betah menetap di sana.

Di Indonesia, suara dukungan untuk Palestina terus bergaung. Di berbagai daerah berbagai komunitas turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasinya. Dukungan ini mengalir seiring dengan semakin terjajahnya Palestina oleh Israel, tak hanya melalui serangan militer tapi juga peraturan dan kesepakatan sepihak.

Aksi Cepat Tanggap (ACT) sendiri terus mendampingi perjuangan penduduk Palestina. Pada Jumat (7/2) lalu, seribu jiwa di sekitar Al-Aqsa menikmati makanan siap santap dari ACT. Mereka menikmati hidangan berupa nasi beriani dengan lauk ayam, susu, buah serta jus.

Kini, dukungan dari berbagai elemen masyarakat dunia, khususnya Indonesia, terus diberikan ke penduduk Palestina. Dukungan masyarakat Indonesia melanjutkan komitmen presiden pertama Indonesia Soekarno, yang dengan tegas ikut memperjuangkan kemerdekaan Palestina dari penjajahan Israel. []


Bagikan