Bahagia Kurban di Tengah Kekeringan dan Kekurangan

Selain duka karena bencana kekeringan yang tengah melanda warga Bojonegoro, kondisi ekonomi yang sulit membuat mereka jarang memakan daging.

Bahagia Kurban di Tengah Kekeringan dan Kekurangan' photo

ACTNews, BOJONEGORO - Pekerjaan Muhammad Heryanto adalah buruh tani. Namun, ia mesti bekerja serabutan sekarang, mengingat lahan pertanian mati kering dipanggang kemarau panjang. Kini ia menjadi kuli bangunan karena tidak ada lahan yang dapat dikerjakan.

“Kerjanya di proyek-proyek sekarang, seperti tadi di proyek jalan depan desa. Pekerjaan saya sekarang adalah memecah batu untuk bahan bangunan,” kata Heryanto ketika ditemui tim Global Qurban yang mengantarkan paket daging kepadanya pada Iduladha lalu.

Warga Desa Bakalan, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, ini mengakui cukup jarang memakan daging. Kondisi ini karena penghasilan Heryanto sebagai buruh tani, apalagi serabutan sekarang ini, tidak mencukupi untuk membeli daging.

“Alhamdulillah senang dapat daging karena jarang-jarang dapat daging. Kadang tidak tentu, kalau kerja di rumah orang baru dapat daging. Jarang saya beli sendiri. Soalnya uangnya untuk biaya sekolah anak,” kata ayah dari empat orang anak ini.


Namun begitu, ia tetap tertawa lepas ketika menceritakan kesulitan-kesulitan yang ia alami, terutama menyangkut kekeringan. Selain menghilangkan satu mata pencahariannya, kekeringan juga membuat aktivitasnya terganggu. Sumur di rumahnya kering dan kini ia mesti mengambil air yang masih mengalir di rumah tetangganya.

“Sudah dua bulan (sumur) kering ini. Sekarang ambil dari tetangga-tetangga yang masih punya air. Dan pasti dapat dari tetangga, alhamdulillah,” ujar Heryanto sembari tertawa.

Sering kali ia bolak-balik untuk menimba air dari rumahnya ke rumah tetangga di belakangnya. Heryanto menggunakan satu ember cat besar untuk mengambil air sampai delapan kali bolak-balik. Itu pun baru cukup untuk kebutuhan air keluarganya untuk mandi dan mencuci selama satu hari.

Tahun ini di daerah yang sedang mengalami bencana kekeringan tersebut, Global Qurban datang menyapa masyarakat. Sebanyak tiga puluh kambing didistribusikan di enam desa di Kabupaten Bojonegoro. Desa-desa tersebut yakni Pacul, Kapas, Malingmati, Bunten, Njiwo, dan Sugih Waras.

Selain Heryanto, banyak warga lain yang mengalami kesulitan serupa. Banyak dari mereka yang sudah jarang memakan daging bahkan sebelum terdampak kekeringan,. Salah satunya Damiyati, warga Desa Malingmati, Kecamatan Tambakrejo. Global Qurban mengetuk pintu rumahnya dan mengantarkan satu paket daging amanah dari para dermawan.

“Rasanya ya, enak makan daging, alhamdulillah,” begitu kalimat yang diucapkan Damiyati. Tidak mengherankan melihat Damiyati amat bersyukur bisa mengonsumsi daging di momen Iduladha kala itu. Pasalnya, sering kali ia mesti sarapan dengan singkong rebus karena keadaan ekonomi yang sulit.


“Biasanya juga kalau makan sehari-hari ya kacang panjang, labu, kalau daging tidak pernah. Daging ayam juga kalau ada acara. Kalau makan daging, mesti mengantar orang ke acara hajatan dulu,” cerita Damiyati.

Kalaupun dapat daging sendiri, paling tidak kata Damiyati hanya satu tahun sekali. Penghasilannya dari mencari kayu bakar yang hanya 450 rupiah satu hari, tidak cukup untuk membeli daging. Nenek dari empat anak ini pada akhirnya hanya makan secukupnya saja untuk sehari-hari.

“Ya kalau punya uang, beli telur buat didadar. Dua butir saja belinya. Karena kalau beli seperempat kilogram kemahalan, tidak cukup uangnya. Ya kalau punya uang (beli telur), kalau tidak ada uang, ya tidak beli,” kata Damiyati. []

Bagikan