Bakti Kemanusiaan Naufal di Jalan Kerelawanan

Dengan menjadi seorang relawan, Naufal ingin mengaplikasikan hadis tentang menjadi manusia yang bermanfaat. Dalam perjalananya, banyak hal ia dapatkan, mulai dari pengalaman hingga pembelajaran kehidupan.

Bakti Kemanusiaan Naufal di Jalan Kerelawanan' photo
Naufal berfoto dengan truk tangki yang ia kendarai untuk mengirimkan air bersih berlatar belakang Gunung Rinjani, Lombok. Mahasiswa UIN Yogyakarta ini merupakan salah satu relawan yang sempat bertugas di Lombok untuk merespons bencana. (Dokumen pribadi)

ACTNews, YOGYAKARTA – “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”. Itulah hadis yang diriwayatkan Ahmad, At-Thabrani, Ad-Daruqutni yang juga menjadi motivasi Muhammad Naufal Izuddin untuk menjadi relawan hingga saat ini. Naufal, panggilan akrabnya, merupakan relawan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Daerah Istimewa Yogyakarta. Hampir empat tahun ia bergabung dengan gerakan kerelawanan MRI. Berbagai aksi kemanusiaan pun telah ia lakukan dan membawa kesan tersendiri baginya.

Ikut merespons bencana gempa bumi di Lombok tahun 2018 silam jadi salah satu yang tak terlupakan bagi Naufal. Mahasiswa S1 Ilmu Kesejahteraan Sosial di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga ini mendapat tugas di Posko Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Unit Jenggala, Lombok Utara untuk mendistribusikan air bersih. Kala itu, air menjadi kebutuhan pokok yang sangat mendesak setelah jaringan air dari perbukitan ke permukiman mengalami kerusakan akibat gempa.

Suatu ketika, ia pernah ditugaskan mengirimkan air bersih menggunakan Humanity Water Truck ke salah satu desa yang mengalami kekeringan pascagampa Lombok. Dalam perjalanan inilah yang kemudian oleh Naufal ia kenang hingga hari ini. Saat itu, ada dua orang yang menghadang truk tangki penuh air yang ia bawa. Padahal, permukiman tempat penghadangan bukanlah tujuan utama.

“Ternyata orang itu (penghadang) minta sebagian air yang saya bawa untuk memandikan jenazah. Salah satu warga di sana ada yang meninggal dunia, dan enggak ada air karena jaringan air waktu itu belum diperbaiki setelah gempa,” kenang Naufal yang hingga kini masih jelas mengingat pengalaman itu, Senin (19/10).

Bagi Naufal, ditugaskan sebagai relawan MRI di Lombok tahun 2018 menjadi yang paling berkesan. Selama bergabung menjadi tim MRI, Lombok lah tempat paling jauh yang ia sambangi. Dari Yogyakarta, tiga hari dua malam ia menempuh perjalanan darat untuk mengawal bantuan kemanusiaan dari masyarakat Yogyakarta sebelum kemudian ditugaskan di Posko Kemanusiaan ACT Unit Jenggala. Bersama tiga relawan lainnya, perjalanan ini pun sangat berkesan baginya karena diamanahkan untuk mengawal pengiriman bantuan yang menjadi keperluan warga terdampak bencana.

Kini, dua tahun selepas bencana gempa bumi di Lombok, Naufal masih melakukan aksi kemanusiaan bersama MRI, yakni mendistribusikan air bersih. Namun, kali ini tujuannya adalah lokasi terdampak kekeringan dan krisis air di DI Yogyakarta. Menggunakan Humanity Water Truck, Naufal melakukan aksi-aksi kemanusiaan bersama relawan MRI lainnya. Banyak hal yang kemudian ia dapatkan, mulai dari bersyukur hingga sabar dalam keinginan pribadi.

“Ketika kita mengirimkan bantuan, di sana banyak pelajaran yang diambil. Mulai dari rasa syukur serta sabar. Kadang saya masih saja mengeluh ketika diberi ujian yang ternyata tidak seberat yang orang lain rasakan,” pungkas relawan yang mengenal MRI lewat media sosial Instagram itu.[]