Bandara Sanaa Tutup, Bantuan Kemanusiaan Sulit Masuk

Kehancuran Bandara Sanaa membuat bantuan kemanusiaan sulit didistribusikan ke Yaman. Jutaan pengungsi terancam tidak bisa bertahan menghadapi krisis.

krisis yaman
Bandara Sanaa yang rusak hancur. (Dokumen AFP)

ACTNews, SANAA – Bandara Internasional Sanaa di Yaman hancur akibat serangan udara dalam konflik internal. Padahal, bandara utama di Yaman itu merupakan pintu masuk pasokan bantuan masyarakat internasional untuk pengungsi Yaman sejak tahun 2015. Setelan hancur, bandara yang memiliki nama lain El Rahaba Airport tersebut terancam ditutup cukup lama.

Kondisi tersebut membuat bantuan makanan dan obat-obatan–yang melalui bandara–tidak dapat masuk. Padahal, berdasarkan data, lebih dari setengah warga Yaman sangat bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk bisa bertahan dalam krisis.

Sejumlah organisasi kemanusiaan internasional pun menyerukan pembukaan kembali Bandara Internasional Sanaa. Jasmin Lavoie salah satu aktivis organisasi pengungsi berpendapat, dampak dari keputusan penutupan bandara pada kehidupan warga Yaman sangat parah. “Banyak warga Yaman yang meninggal dunia karena kondisi kesehatan kritis. Mereka mencari perawatan medis internasional tetapi tidak dapat menemukannya karena penutupan bandara,” kata  Lavole.

Sementara itu, Juliette Touma, dari badan anak-anak PBB mengatakan bandara Sanaa juga merupakan akses bagi Yaman untuk mengimpor vaksin.

“Melalui bandara Sanaa kami mendapatkan bantuan penyelamatan jiwa untuk anak-anak, termasuk vaksin rutin terhadap penyakit anak,” katanya.

Hingga saat ini, krisis ekonomi kian memburuk di Yaman. Konflik yang berlangsung selama bertahun-tahun, telah menyebabkan devaluasi dari mata uang di negara yang berbatasan langsung dengan Laut Arab itu. Rial Yaman dilaporkan telah turun hampir 40 persen nilainya terhadap dolar AS dalam delapan bulan pertama tahun 2021.

Hal ini pun menyebabkan kenaikan harga pangan yang sangat tinggi. Program Pangan Dunia (WFP) menyatakan, imbas Rial Yaman yang kehilangan nilainya, harga pangan di beberapa wilayah di Yaman meroket sampai 60 persen. Membuat negara dengan jutaan pengungsi internal tersebut, dilanda tingkat kerawanan pangan yang sangat tinggi.[]