Bangun Lagi Potensi Perekonomian Sigi melalui Usaha Bawang Goreng

Bawang goreng sudah lama menjadi salah satu makanan khas Sulawesi Tengah yang dapat membangun potensi perekonomian masyarakat. Namun, pascabencana pada pertengahan 2018 lalu, usaha bawang goreng sempat tersendat bahkan hampir musnah.

Bangun Lagi Potensi Perekonomian Sigi melalui Usaha Bawang Goreng' photo

ACTNews, SIGI - Sekitar 40 penyintas gempa dan likuefaksi yang menempati Integrated Community Shelter (ICS) Langaleso, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, masuk menjadi anggota pemberdayaan ekonomi ACT Sulawesi Tengah (Sulteng). Dibagi menjadi empat kelompok, setiap kelompok terdiri dari 10 orang. 

Kepala Program ACT Sulteng Mustafa menjelaskan, upaya pemberdayaan diadakan untuk membangun kembali potensi perekonomian bersama penghuni ICS Langaleso. Pemberdayaan sendiritersebut dalam bentuk usaha bawang goreng, yang memang menjadi salah satu makanan khas Sulawesi Tengah. 


“Pascabencana, kami merasa pemberdayaan masyarakat bisa menjadi solusi untuk kembalinya potensi perekonomian di Sigi. Dimulai dari masyarakat, manfaatnya juga untuk masyarakat,” kata Mustafa. 

Selain sebagai lembaga yang menginisiasi, ACT Sulteng juga berperan sebagai pendamping dalam menyediakan bahan baku dan alat untuk proses produksi. Termasuk menyediakan alat seperti mesin spinner untuk mengeringkan bawang goreng yang sudah diolah. 


“Sebelumnya produksi masih belum optimal, sebab kami masih terus belajar untuk berinovasi. Hingga kami menemukan alat yang dapat mempercepat pengeringan bawang goreng yakni mesin spinner,” ungkap Mustafa. 

Selama pemberdayaan berjalan di ICS Langaleso, menurut Mustafa, hasil penjualan dari usaha bawang goreng sudah mulai terlihat, bahkan pada tahap awal mencapai jutaan rupiah. “Itu memperkuat keyakinan kami bahwa pemberdayaan dapat membangun kembali potensi perekonomian di Sigi,” tegas Mustafa. 


ACT Sulteng pun akan terus melakukan inovasi agar pemberdayaan ekonomi tersebut terus meningkat kualitasnya. Dalam waktu dekat, insyaallah, ACT juga akan menginisiasi pembuatan kemasan dan desain label demi produk yang bisa diterima oleh khalayak masyarakat. 

“Kami juga akan memperluas ranah pemasaran dan penjualan lewat jejaring sosial media, sembari mengoptimalkan bangunan Humanitarian Distribution Center (HDC) di ICS Lolu untuk dijadikan rumah produksi dan penjualan produk olahan kelompok binaan ACT,” pungkas Mustafa. 

Sejak bencana terjadi, ACT Sulteng tak henti melakukan pendampingan untuk para penyintas. Mulai dari fase darurat, pemulihan, hingga pembangunan ekonomi. Pemberdayaan yang dimulai dengan membersamai penghuni ICS menjadi salah satu solusi untuk untuk memulihkan perekonomian masyarakat Palu, Sigi, maupun Donggala. []

Bagikan