Banjir Bandang dan Longsor Paksa Santri Belajar di Saung Sempit

Setahun lalu, bangunan Majelis Nurul Iman dan Pondok Pesantren Yatim dan Dhuafa Ranca Nangka luluh lantak akibat banjir bandang dan longsor. Kini para santri belajar di tempat yang tidak layak. Mereka berharap memiliki pondok yang nyaman.

mushaf untuk yatim
Para santri Pondok Pesantren Yatim dan Dhuafa sedang belajar di saung. (ACTNews)

ACTNews, KABUPATEN BOGOR – Banjir bandang dan longsor yang meratakan Kampung Ranca Nangka, Desa Cileksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor pada 2020 lalu menyisakan duka bagi santri Majelis Nurul Iman. Bangunan majelis tempat mereka belajar rata dengan tanah. 

Majelis Nurul Iman didirikan pada 2005 dan memiliki bangunan belajar yang layak. Sejak bencana terjadi, majelis belum memiliki bangunan pengganti. Namun para santri masih tetap belajar dengan memanfaatkan lahan di teras rumah Ustaz Fahrozi, yang merupakan pengelola majelis. 

Selain Majelis Nurul Iman, Pondok Yatim dan Dhuafa yang dikelola Ustaz Daman juga rata dengan tanah. Bangunan yang berdiri di atas lahan 30x70 meter hanya tinggal puing. Barang-barang di dalamnya hanyut bersama material banjir dan longsor.

Saat ini, para santri pondok tersebut belajar di saung berukuran 2x3 yang terbuat dari bambu dan berdinding gipsum. Saat hujan deras, kegiatan belajar diliburkan karena air hujan akan masuk ke dalam saung. 

“Mayoritas anak-anak yang mengaji di sini usia SD sampai SMP. Mereka merupakan anak-anak yatim dan prasejahtera. Mereka belajar tidak dipungut biaya. Namun, orang tua sering memberi saya hasil panen mereka berupa ubi, pisang, jagung, kadang beras,” kata Ustaz Daman, ditemui tim ACT Bogor Barat saat memberikan bantuan mushaf Al-Qur’an dan biaya hidup, Sabtu (18/9/2021). 

Ustaz Daman berharap bisa membangun kembali pondok yang layak bagi para santri sehingga saat hujan datang, kegiatan tetap bisa berjalan dan anak-anak tidak kehujanan. 

Yhoko Kunchoro dari tim ACT Bogor barat mengatakan, bencana banjir dan tanah longsor membuat 766 unit rumah rusak, enam orang meninggal dunia, tiga orang hilang, dan 34 orang terluka. Akibat kejadian ini sebanyak 4.146 warga mengungsi di beberapa lokasi seperti di kantor desa, sekolah dasar, musola, masjid, pondok pesantren dan rumah-rumah warga.

“Sebagian besar korban kini menempati hunian sementara di Blok Cipendawa RT 01/07 Desa Cileuksa Kecamatan Sukajaya Kabupaten Bogor, dan Blok Cipendawa RT 03/07," pungkasnya.[]