Banjir Bandang Pertama yang Lumpuhkan Kampung Somang

Banjir yang menerjang Kampung Somang, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak pada Januari 2020 lalu tidak disangka oleh warga sekitar. Banjir awalnya datang kecil dan telah biasa terjadi di Kampung Somang sehingga warga bersikap biasa saja. Namun setelah banjir pertama surut, banjir kedua datang tiba-tiba dan menenggelamkan rumah serta barang-barang mereka.

Banjir Bandang Pertama yang Lumpuhkan Kampung Somang' photo
Salah satu rumah warga di Kampung Somang yang terdampak banjir pada awal tahun 2020 lalu. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, LEBAK – Banjir datang tidak seberapa besar pada Januari 2020 itu. Kondisi seperti banjir-banjir yang sebelumnya pernah terjadi di Kampung Somang, Desa Sukarame, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak. Oleh karenanya, masyarakat tenang dan hanya menunggu banjir surut. Sebagian warga lainnya justru menonton air Sungai Ciberang yang meluap.

“Banjirnya itu dua tahap. Pertama datang, pagi jam 9 tidak seberapa besar, lalu surut. Jadi orang-orang pada tenang saja. Tidak ada yang beres-beres pakaian dikarenakan lihat air surut. Kemudian habis surut, airnya itu datang sekaligus. Sudah tidak ada yang terbawa. Cuma pakai celana pendek saja dan kaos,” kata Sabrowi, warga Kampung Somang yang terdampak banjir, Selasa (10/3) lalu.

Sabrowi menunjuk tembok rumah di depan rumahnya. Terdapat bercak banjir berwarna kecokelatan. Banjir setinggi hingga pelipis orang dewasa. Diperkirakan banjir tersebut datang bersamaan dengan longsornya bukit yang dilewati Sungai Ciberang. Air yang datang tiba-tiba membuat warga berlarian menyelamatkan diri.

Tidak terkecuali Sabrowi yang menyelamatkan diri bersama keluarganya ke tempat tinggi. Ia kemudian mengungsi ke rumah anaknya yang berjarak sekitar 5 kilometer dari rumahnya. Bersama 7 orang anggota keluarganya yang lain, ia mengungsi selama 18 hari.

“Ada yang seminggu, ada yang 10 hari. Masing-masing bagaimana kondisi kerusakan rumahnya. Kalau (rumah) bapak parah kan penuh pasir, tidak dapat ditempati. Ya terpaksa menunggu kering saja dulu. Sudah 18 hari, pasir agak kering, lalu telepon anak dan minta kirimkan uang dan akhirnya plester rumah. Baru bisa ditempati,” kata Sabrowi.


Sabrowi di teras rumah bersama keluarganya. Rumah Sabrowi dihuni oleh 8 orang termasuk dirinya. (ACTNews/Reza Mardhani)

Syarif, tetangga depan rumah Sabrowi, juga tidak sempat menyelamatkan apapun. Banjir kerap kali terjadi, namun kala itu ia tidak menyangka akan ada banjir bandang yang sedemikian besar. Sehingga, ia hanya sempat melarikan diri tanpa sempat memikirkan barang-barangnya.

“Jadi yang di sini tidak ada yang bisa diselamatkan. Termasuk saya juga, sama. Hanya pakaian yang menempel di badan saja. Ini saja contohnya,” Syarif menunjuk motor di sebelahnya yang masih banyak bercak lumpur. “Ini saja sampai terendam. Sudah dibongkar tapi belum hidup,” katanya.

Syarif juga akhirnya mengungsi ke rumah saudaranya selama 10 hari. Rumahnya hancur di bagian dalam hingga belakang. Ia akhirnya merenovasi rumahnya dengan triplek seadanya agar dapat ditinggali untuk sementara waktu. Ia tak bisa membangun kembali rumahnya sepenuhnya karena pemerintah telah menetapkan wilayah rumahnya dan Sabrowi masuk sebagai daerah genangan.

Melihat keadaan rumah mereka yang baru bisa ditinggali untuk sementara waktu saja, ACT memberikan mereka sebuah hunian nyaman. Di Hunian Nyaman Terpadu (Integrated Community Shelter/ICS) ini, mereka juga akan tinggal dengan sekitar 50 kepala keluarga lainnya yang mengalami musibah yang sama.

Minggu selaku Sekretaris Desa Sukarame menceritakan bahwa kehadiran ICS sangat ditunggu oleh warga Kampung Somang. Pemerintah desa sendiri telah mendata warga-warganya yang akan mendapatkan ICS dari ACT.

“Tidak ada kriteria khusus atau prioritas yang kita tetapkan untuk warga penerima ICS. Anak-anak atau orang tua misalnya. Yang pasti kita memberikan ICS ini kepada warga yang rumahnya rusak atau hanyut karena banjir,” tutur Minggu.

Syarif merasa senang dengan kehadiran ICS ini. Apalagi menurut Syarif, beberapa warga juga mengalami trauma semenjak kejadian banjir tersebut.

“Sangat membantu karena kami di sini sudah trauma. Setiap ada banjir sedikit, yang dahulunya batas normal (merasa) biasa saja, sekarang sudah trauma. Adanya ICS sangat membantu sekali,” kata Syarif.

Pembangunan 52 hunian yang telah dimulai pada Rabu (4/3) lalu itu telah selesai sekitar 20% dari target. Pembangunan ini ditargetkan akan memakan waktu satu bulan semenjak pertama kali dibangun.

“Pembangunannya mulai hari Rabu kemarin. Rencana yang akan dibangun insyaallah 52 unit hunian, dan dilengkapi dengan MCK, gudang, dapur umum, dan fasilitas ibadah yakni masjid.  ICS ini juga dilengkapi dengan arena bermain untuk anak-anak korban pascabanjir bandang dan longsor,” jelas Dede Abdul Rohman selaku Koordinator Pembangunan ICS pada Senin (9/3) lalu. []


Bagikan

Terpopuler