Banjir Bandang Terjang Puluhan Rumah di Kabupaten Minahasa Tenggara

Banjir mengakibatkan 33 unit rumah terdampak dan tiga bangunan hanyut di Kecamatan Ratahan.

Banjri di Minahasa Tenggara
Banjir bandang di Minahasa Tenggara (BNPB)

ACTNews, MINAHASA TENGGARA – Banjir bandang menerjang puluhan unit rumah di dua Kecamatan, Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Dua kecamatan tersebut yaitu Kecamatan Ratahan dan Kecamatan Ratahan Timur. Banjir bandang membawa material kayu dan lumpur dari pegunungan Manimporok, lumpur yang bercampur air banjir nampak menerobos sela-sela rumah.

Banjir yang terjadi pada Senin (20/9/2021) pukul 14.30 waktu setempat, berketinggian muka air berkisar dua sampai tiga meter. Banjir mengakibatkan 33 unit rumah terdampak dan tiga bangunan hanyut di Kecamatan Ratahan. Sedangkan di Ratahan Timur, banjir bandang berdampak pada 17 rumah warga.

Selain itu, sejumlah fasilitas umum juga rusak bahkan hanyut terbawa banjir. Salah satunya ruas Jalan Nasional penghubung Kabupaten Minahasa dan Minahasa Utara terputus.

Kepala BPBD Minahasa Tenggara, Aneke Sumendap menjelaskan di Kecamatan Ratahan Timur ada tiga desa yang terdampak. Desa tersebut yakni Desa Pangu Satu, Wioi Dua dan Wioi Tiga. Kemudian di Kecamatan Ratahan ada dua kelurahan.

"Ada rumah hanyut di Kelurahan Nataan, satu rumah, ada kios satu, dan bengkel satu. Ada juga korban hilang sekitar usia 60 tahun," katanya.

Berdasarkan analisis InaRISK, Kabupaten Minahasa Tenggara termasuk wilayah dengan potensi banjir bandang dengan kategori sedang hingga tinggi. Sebanyak 10 kecamatan berada pada kategori tersebut, salah satunya Kecamatan Ratahan dan Ratahan Timur.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merilis peringatan dini waspada potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang di Wilayah Tomohon, Kotamobagu, Minahasa, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondow Utara, Bolaang Mongondow Timur, Bolaang Mongondow Selatan, Kepulauan Sitaro, Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud.

“Memasuki husim hujan, masyarakat diharapkan dapat melakukan aksi dini. Salah satunya melakukan saling berkoordinasi antara masyarakat yang berada di kawasan hulu dengan mereka yang berada di sisi hilir,” kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, melalui keterangan resmi.[]