Banjir Belum Surut, Puluhan Ribu Pengungsi Rohingya di Bangladesh Terlantar

Banjir yang melanda wilayah Cox’s Bazar, Bangladesh masih belum surut. Imbasnya, lebih dari 21 ribu pengungsi Rohingya terlantar sebab tak bisa menempati tenda pengungsian mereka.

banjir cox’s bazar
Banjir yang melanda Cox’s Bazar membuat ribuan pengungsi Rohingya kehilangan tempat tinggal. (Dokumen Istimewa)

ACTNews, COX’S BAZAR – Banjir yang melanda wilayah Cox’s Bazar, Bangladesh sejak Selasa (27/7/2021) lalu, masih belum surut pada Ahad (1/8/2021). Enam pengungsi Rohingya meninggal, termasuk di antaranya tiga anak-anak. Lebih dari 21 ribu pengungsi Rohingya terlantar. Mereka tak bisa menempati tenda mereka. Air dan lumpur yang masih memenuhi area pengungsian.

Badan Pengungsi PBB (UNHCR) menyatakan ada ribuan tenda pengungsi Rohingya yang hancur terbawa arus banjir bandang. Tenda mereka hanya terbuat dari bambu reot yang ditutup oleh terpal sehingga sangat mudah hancur jika terkena banjir.

“Ini seperti mimpi buruk. Saya belum pernah melihat banjir seperti ini di kamp selama empat tahun. Ketika air datang, tidak ada seorang pun dari keluarga saya di rumah yang membantu. Saya sendirian, tetapi saya bisa membawa barang-barang saya ke tempat yang lebih aman. Sekarang saya tinggal dengan pengungsi lain” ujar salah satu pengungsi Rohingya, Rokeya Begum.

UNHCR juga menyatakan bahwa kemungkinan besar, banjir akan semakin parah. Sebab, hujan lebat diperkirakan masih akan terjadi selama beberapa hari ke depan.

Hujan monsun yang lebat di Cox’s Bazar juga telah memicu tanah longsor dan banjir bandang di kamp-kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh pada pekan ini. Banyak fasiltas umum rusak. Dari mulai jembatan, klinik, hingga sarana sanitasi.

Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Response ACT menyatakan, bencana banjir bukan yang pertama kali menimpa para pengungsi di Cox’s Bazar. Sebab, tempat para pengungsi mendirikan kamp-kamp mereka, memang merupakan area rawan banjir dan tanah longsor. Pada Mei lalu misalnya, ada dua pengungsi yang tewas sebab tertimbun tanah longsor.

“Area kamp-kamp pengungsian yang berada di area perbukitan yang gundul, membuat rawan sekali terjadi longsor saat hujan lebat tiba. Tidak hanya saat musim hujan, jika musim kemarau tiba, bencana juga bisa terjadi. Wilayah kamp menjadi sangat gersang. Kebakaran dapat sangat mudah terjadi. Apa lagi tenda pengungsi yang terbuat dari kayu, sehingga jika ada satu tenda yang terbakar, bisa dipastikan akan cepat merambat ke tenda lainnya,” jelas Firdaus.[]