Banjir Besar Rusak Ribuan Rumah di Sudan

Hujan lebat yang tak kunjung berhenti menyebabkan banjir besar di sejumlah kota di Sudan pekan ini. Sekitar 12 ribu warga di delapan negara bagian Sudan terdampak, lebih dari 800 rumah dilaporkan hancur total, serta lebih dari 4.400 rumah rusak dengan tingkat kehancuran bervariasi.

banjir di sudan
Ilustrasi. Banjir besar melanda beberapa kota di Sudan pada tahun 2020 lalu. (AFP/Mazen Mahdi)

ACTNews, SUDAN – Hujan lebat yang tak kunjung henti menyebabkan banjir besar melanda sejumlah kota di Sudan pekan ini. Banjir tersebut menyebabkan kerusakan berbagai properti dan infrastruktur umum di negara mayoritas penduduk muslim tersebut.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan, sekitar 12 ribu warga di delapan negara bagian Sudan terkena dampaknya. Lebih dari 800 rumah dilaporkan hancur total dan lebih dari 4.400 rumah rusak dengan tingkat kehancuran bervariasi.

Banjir dilaporkan sudah mulai terjadi sejak akhir Juli lalu, saat curah hujan mulai meningkat. Kementerian Irigasi dan Sumber Daya Air Sudan mengatakan bahwa aliran air di Sungai Nil Biru naik dari 100 juta meter kubik menjadi 400 juta meter kubik.

“Banjir tak henti-hentinya selama dua tahun, sangat menurunkan kemampuan masyarakat Sudan untuk mengatasinya, serta bertahan hidup. Puluhan ribu orang terkena dampak. Ini adalah contoh menyedihkan tentang bagaimana perubahan iklim menyebabkan banjir. Membuat banyak warganya menghadapi kebutuhan kemanusiaan yang akut,” kata Arafat Jamal sebagai Koordinator Kemanusiaan ad interim di Sudan Selatan.

Kejadian serupa pun pernah terjadi pada tahun lalu. Hujan lebat memaksa Sudan mengumumkan keadaan darurat selama tiga bulan. Banjir menyebabkan 110 ribu rumah rusak dan 650 ribu warga Sudan mengungsi.

Uluran kedermawanan disalurkan ACT pada saat itu. Ratusan paket pangan dibagikan untuk warga terdampak banjir di wilayah Shendi. Tidak hanya paket pangan, Tim ACT yang dibantu relawan lokal juga membagikan kelambu untuk membantu para pengungsi istirahat para pengungsi lebih nyaman.

Andi Noor Faradiba dari Tim Global Humanity Response - ACT mengatakan, pangan menjadi salah satu kebutuhan yang paling mendesak untuk dipenuhi warga Sudan. "Untuk itu, semoga uluran kedermawanan masyarakat Indonesia kembali hadir untuk saudara kita di Sudan yang tengah dilanda musibah pada kali ini," ujar Faradiba, Senin (9/8/2021). []