Banjir di Sudan, PBB: Ratusan Ribu Orang Alami Krisis Kemanusiaan

Imbas banjir besar di Sudan, PBB menyatakan 426 ribu warga dan pengungsi internal di sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan

banjir di sudan
Banjir sebabkan ratusan ribu warga dan pengungsi alami krisis kemanusiaan. (AFP/Peter Louis)

ACTNews, SUDAN – Hujan deras yang terus mengguyur Sudan  menyebabkan beberapa wilayahnya terendam banjir. Ratusan ribu warga di 13 dari 18 negara bagian di Sudan terdampak. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan 426.000 warga di Sudan Selatan terpaksa mengungsi dan sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Ribuan pengungsi internal dipindahkan ke kamp yang berbeda, sementara yang lainnya berlindung di desa-desa tetangga. Namun, banyak pula yang akhirnya tinggal di jalanan.

“Mereka menjadi tunawisma. Kami menghadapi tantangan serius untuk menemukan lahan baru untuk merelokasi mereka,” kata Ibrahim Mohamed, seorang pejabat senior di komisi pengungsi Sudan.

Sepanjang 2021 ini, pihak berwenang menyatakan  banjir di Sudan telah merenggut lebih dari 80 nyawa dan merusak sekitar 35.000 rumah. Di distrik al-Jabalain di negara bagian Nil Putih di Sudan, baik penduduk desa maupun pengungsi tidak siap menghadapi banjir.

“Penduduk desa mengatakan mereka belum pernah menyaksikan banjir seperti itu selama 40 tahun,” kata Anwar Abushura, kepala kamp al-Qanaa.

Hujan deras memang melanda Sudan setiap tahun antara bulan Juni dan Oktober. Hal itu membuat negara seluas sekitar 924 kilometer tersebut sering bergulat dengan banjir parah yang merusak properti dan infrastruktur publik. Tahun lalu, Sudan mengumumkan keadaan darurat selama tiga bulan karena banjir 

Uluran kedermawanan pun pernah disalurkan ACT pada saat itu. Ratusan paket pangan dibagikan untuk warga terdampak banjir di wilayah Shendi. Tidak hanya paket pangan, Tim ACT yang dibantu relawan lokal juga membagikan kelambu untuk membantu para pengungsi untuk beristirahat lebih nyaman.

Andi Noor Faradiba dari Tim Global Humanity Response ACT mengatakan, pangan menjadi salah satu kebutuhan yang paling mendesak untuk dipenuhi warga Sudan. "Untuk itu, semoga uluran kedermawanan masyarakat Indonesia kembali hadir untuk saudara kita di Sudan yang tengah dilanda musibah pada kali ini," ujar Faradiba, Senin (4/10/2021).[]