Banjir Hancurkan 37 Ton Pasokan Pangan di Sudan Selatan

37 ton pasokan pangan dari sektor pertanian hancur dalam banjir besar di Sudan Selatan. Kondisi ini membuat kerawanan pangan di negara tersebut semakin kritis.

banjir sudan selatan
Banjir di Sudan Selatan. (MSF/Tetiana Gaviuk)

ACTNews, SUDAN SELATAN – Organisasi Pangan dan Pertanian internasional (FAO) menyatakan banjir besar di Sudan Selatan telah menghancurkan sekitar 37.624 ton pasokan pangan. FAO mencatat, 65.107 hektar lahan pertanian telah terendam sejak Mei lalu. Sementara di sektor peternakan, 795.558 hewan ternak telah mati akibat banjir tahun ini. Termasuk sapi, kambing, domba, keledai, dan unggas.

“Hal ini memiliki konsekuensi negatif pada ketahanan pangan penduduk yang terkena dampak,” ujar FAO dalam laporan yang diterbitkan akhir tahun 2021 lalu.

Laporan tersebut juga mencatat lebih dari 835 ribu warga Sudan Selatan di 8 dari 10 negara bagian terdampak. Wilayah Jonglei, Unity, dan Upper Nile diperkirakan terkena dampak paling parah.

FAO menerangkan kebanyakan orang yang terdampak banjir sulit bertahan hidup karena banjir dari tahun-tahun sebelumnya belum surut dan banjir terbaru memperburuk situasi. Hal ini membuat prospek pemulihan menjadi sangat sulit,

Sementara itu, Program Pangan Dunia (WFP) menyatakan, Sudan Selatan merupakan salah satu negara yang dilanda krisis kelaparan terburuk secara global. 2,5 juta warga negara yang memiliki luas lebih dari 644 ribu kilometer persegi tersebut diperkirakan mengidap kerawanan pangan akut. Lebih memprihatinkan, 108 ribu jiwa dari jumlah tersebut berada dalam kondisi darurat dan membutuhkan bantuan segera.

Krisis ini merupakan yang terburuk sejak negara tersebut merdeka pada tahun 2011.Konflik berkepanjangan juga membuat warga Sudan Selatan sulit untuk melakukan pemulihan pascabanjir. Menyebabkan banyak warga sangat bergantung pada bantuan untuk bertahan hidup.[]