Banjir Melanda Sejumlah Kabupaten dan Kota di Nusantara

Intensitas hujan yang masih tinggi serta daya dukung lingkungan yang kurang baik memicu bencana banjir di berbagai daerah di Nusantara. Merespons bencana ini tim ACT mengerahkan tim tanggap darurat untuk menyelamatkan warga.

Relawan ACT sedang mengevakuasi warga Subang yang terjebang banjir.
Relawan ACT sedang mengevakuasi warga Subang yang terjebang banjir. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA Masih jelas dalam ingatan bagaimana banjir besar melanda Kalimantan Selatan. Perkampungan mengalami kerusakan dan memaksa para penghuninya untuk mengungsi. Fasilitas umum tak luput dari kerusakan, serta perekonomian yang berhenti sejenak. Dampak banjir Kalsel itu hingga kini masih begitu terasa. Namun, di tempat lain bencana serupa juga melanda, sebut saja di Kota Semarang, Jepara, kawasan Jabodetabek, Karawang, Subang, Majalengka, Keerom hingga banjir lahar dingin di aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru, Jawa Timur.

Bencana tersebut membawa dampak yang cukup besar bagi warga terdampak, khususnya permukiman dan harta benda yang terendam hingga transportasi darat yang lumpuh serta aktivitas ekonomi yang terganggu. Selain itu, bencana banjir ini juga memakan korban jiwa.

“Banjir yang melanda sejumlah daerah ini juga memicu bencana lain seperti longsor yang menimbulkan korban jiwa,” jelas Kusmayadi dari tim Tanggap Darurat ACT, Rabu (10/2/2021).

Bencana banjir yang terjadi di sejumlah daerah tak lepas dari datangnya puncak musim hujan di beberapa daerah. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan di bulan Februari ini sejumlah wilayah masih berpotensi mendapatkan curah hujan yang tinggi hingga ekstrem. Fenomena ini lah yang memungkinkan terjadinya bencana hidrometeorologi. “Hal ini (bencana hidrometeorologi) tergantung pada daya dukung lingkungan dalam merespons kondisi curah hujan,” jelas Guswanto, Deputi Bidang Meteorologi BMKG seperti dilansir dari Kompas.com, Selasa (9/2/2021).

Merespons banjir ini, ACT sigap mengirimkan tim tanggap darurat ke sejumlah daerah. Salah satu titik yang menjadi fokus tim ACT ada di Dusun Raungmaung, Desa Parean, Kecamatan Kandanghaur, Indramayu. Di lokasi ini, banjir masih menggenangi hingga saat ini dengan ketinggian 50-60 sentimeter. Warga mengaku selama tiga hari bencana, belum ada bantuan kemanusiaan yang hadir untuk mereka.

“Hari ini tim MRI dan ACT ke lokasi warga yang terdampak banjir. Kami melakukan asesmen sekaligus membawa bantuan bagi warga,” jelas Muhammad Atqia Tawwaba dari tim ACT Cirebon, Rabu (10/2/2021).

Selain di Indramayu, tim Tanggap Darurat ACT-MRI juga diterjunkan untuk mengevakuasi warga yang hingga saat ini terjebak banjir di Pamanukan, Subang. Salah satu titik evakuasi ialah Desa Mulyasari, Binong, Subang yang beberapa waktu lalu salah satu warganya sempat viral di media sosial karena meminta pertolongan dari jebakan banjir yang terus tinggi. Ternyata, hingga hari ini, di lokasi banjir, tim ACT-MRI masih menemukan warga yang masih belum juga terevakuasi.

“Selain tim tanggap darurat, kami juga telah mengerahkan perahu karet, serta alat pelindung diri untuk mendukung proses evakuasi,” ujar Husen Nurochman dari tim ACT Bandung, Rabu (10/2/2021).[]