Banjir Reda, Pedih Itu Masih Ada

Beratus-ratus tahun setelah Belanda membangun kanal-kanal pengendalian banjir di Batavia, air bah masih kerap menenggelamkan permukiman hingga saat ini. Nasib sebagian besar warga yang tinggal di kota yang kini bernama Jakarta masih tetap sama: direndam banjir.

Banjir Reda, Pedih Itu Masih Ada' photo
Nila (29) warga Semanan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat menggendong bayi laki-lakinya yang baru berusia 9 bulan di halaman rumah. Rumah Nila menjadi salah satu bangunan yang rusak parah saat banjir awal tahun melanda Kelurahan Semanan. (ACTNews/Gina Mardani)

ACTNews, JAKARTA BARAT – “Maaf ya, begini adanya,” kalimat pertama Nila (29) saat menyambut ACTNews di rumahnya awal Februari lalu. Warga Kelurahan Semanan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat itu baru kami temui saat mendistribusikan bantuan program Sahabat Keluarga Prasejahtera Indonesia di Kelurahan Semanan.

Tidak terlalu jauh dari Kali Semanan, rumah berukuran kira-kira 20 meter persegi itu dipaksa berdiri. Berdempet dengan rumah-rumah lain, bangunan itu sudah ditempati Nila sejak ia lahir. Rumah yang menjadi tempat tinggal Nila bersama sembilan anggota keluarga lain. Peninggalan orang tua itu dihuni Nila bersama keluarga kakaknya.

Rasa sungkan tampak dari bahasa tubuh Nila. Ia berusaha menyuguhkan kami hidangan terbaik: air minum wakaf yang baru saja ia terima saat distribusi SKPI tadi. Ia kemudian menggeser sebuah dipan besi beroda, bantalan kapuknya sudah diganti kasur lantai. Lantai semen rumah Nila masih cukup basah, sisa air hujan yang masuk ke dalam rumah beberapa jam lalu.

Langit-langit rumah Nila langsung menunjukkan kerangka, tanpa papan pelapis. Sejumlah genting pun sudah bergeser terendam banjir hampir 5 meter kala awal tahun. Pasak rumah juga tampak tak seimbang. Tembok rumah yang miring itu bisa jadi roboh sewaktu-waktu dan membahayakan penghuninya.


Atap dan tembok rumah keluarga Nila sudah jebol akibat dihantam air bah awal tahun lalu. (ACTNews/Rahman Ghifari)

“Kemarin pinjam dongkrak tetangga buat meninggikan atap rumah. Kalau enggak, ini sudah tidak bisa buat tempat tinggal. Ya tapi kita mau ke mana?” cerita Nila.

Nila bercerita, bantuan beras yang hadir hari itu mungkin baru sebagian kecil bantuan yang meredam beban hidupnya, namun ia amat bersyukur masih ada orang-orang yang peduli. “Saya merasa bersyukur, alhamdulillah ada ACT yang bantu beras dan air minum seperti ini,” kata Nila, mata ibu dua anak itu berusaha membendung air mata. Sehari-hari, Nila harus berhemat untuk makan keluarga. Ia pun harus membeli air isi ulang Rp6 ribu per galon. Seminggu keluarga Nila membutuhkan 1-2 galon air minum.

Sehari-hari, Nila dan suami berjualan gorengan menumpang di tetangga yang menjual nasi uduk. Bahkan, untuk sayur-mayur bahan gorengan ia titipkan di kulkas tetangga. Kini tulang punggung memang berpindah ke pundak Nila. Menjelang akhir tahun lalu, suami Nila mengalami pemutusan hubungan kerja oleh pabrik tempatnya bekerja. Tidak lama, kecelakaan motor menimpa suaminya, jari-jari tangan belum dapat digunakan untuk bekerja. “Kemarin suami coba jadi kuli bangunan, baru sehari, tangannya bengkak. Akhirnya sama mandor disuruh istirahat dulu,” air mata Nila mulai mengalir.

Selain itu, Nila masih menanggung biaya pendidikan adik bungsu yang masih SMA sebesar Rp 3,5 juta di sekolah swasta. Ia pun masih tahap berjuang mengurus administrasi untuk memperoleh bantuan sosial dari pemerintah untuk pendidikan adiknya, walau sejumlah kelengkapan administrasi keluarga Nila hanyut oleh banjir.

“Saya tetap mau anak-anak sekolah, biar enggak kayak orang tuanya, biar derajatnya lebih baik,” ungkap Nila.

Banjir memang masih menjadi problem. Di Kalideres, Saluran Mookervart yang sejak dulu dibangun Belanda untuk mengendalikan banjir kini harus beradu dengan pertumbuhan penduduk dan tata kota. []


Bagikan