Banjir Terjang Kabupaten Limapuluh Kota, Terparah dalam 10 Tahun Terakhir

Banjir Terjang Kabupaten Limapuluh Kota, Terparah dalam 10 Tahun Terakhir

ACTNews, LIMAPULUH KOTA - Bencana banjir dan longsor masih mengintai sejumlah wilayah di Indonesia. Setelah menerjang sebagian besar wilayah di Pulau Jawa, kini banjir dan longsor menghantam Kabupaten Limapuluh, Sumatera Barat pada Jumat dini hari (3/3). Bencana tersebut merupakan imbas dari derasnya hujan yang mengguyur Kabupaten Limapuluh Kota sejak Kamis (2/3).

Bedasarkan data yang dihimpun oleh BNPB, hingga Jumat (3/3), terdapat 12 titik banjir yang tersebar di 7 kecamatan di Kabupaten Limapuluh Kota. Tujuh kecamatan tersebut di antaranya Kecamatan Pangkalan, Kecamatan Kapur IX, Kecamatan Harau, Kecamatan Bukitbarisan, Kecamatan Suliki, Kecamatan Mungka, Kecamatan Luhak, dan Kecamatan Lareh Sago Halaban.

Kecamatan Pangkalan menjadi titik banjir terparah mengingat tinggi air mencapai 1,5 meter akibat meluapnya Sungai Maek. Tidak hanya itu, longsor juga turut menyertai banjir yang melanda Kecamatan Pangkalan. Setidaknya ada 9 titik longsor di kecamatan tersebut.

“Total, ada 13 titik longsor di Kabupaten Limapuluh Kota, 9 di antaranya terdapat di Kecamatan Pangkalan. Sembilan titik longsor ini menyebabkan terputusnya jalan yang menghubungkan Sumbar-Riau, termasuk akses jalan menuju Kecamatan Pangkalan,” jelas Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB.

Putusnya akses jalan utama tersebut menghambat proses evakuasi korban banjir yang terisolir. Sutopo lantas menuturkan, hingga Jumat kemarin, logistik dan bantuan perahu karet untuk evakuasi belum bisa masuk ke wilayah Kecamatan Pangkalan karena terhalang tiga titik longsor besar yang harus dibersihkan.

Merespon kabar bencana tersebut, Aksi Cepat Tanggap, melalui MRI Pekanbaru, pun telah mengirimkan sejumlah relawan ke lokasi terdampak pada Jumat (3/3). Menurut laporan MRI Pekanbaru di lapangan, tim belum bisa menjangkau korban yang terisolir karena akses jalan yang masih terputus akibat adanya timbunan longsor.

Bupati Lima Puluh Kota, Irfendi Arbi Lubis, mengungkapkan, banjir yang melanda Kecamatan Pangkalan tercatat sebagai banjir terparah dalam sepuluh tahun terakhir. “Kalau musim hujan, di sini memang kerap dilanda banjir. Namun, biasanya dalam waktu 5 sampai 6 jam, banjir sudah surut. Sementara saat ini, sudah dekat 24 jam, air tidak kunjung surut,” ungkap Irfendi pada Jumat (3/3).

Tak hanya memutuskan akses jalan Sumbar-Riau, banjir dan longsor juga memakan korban jiwa dan merendam ratusan unit rumah dan puluhan hektare lahan pertanian. Hingga Jumat (3/3), BNPB mendata setidaknya korban tewas mencapai 4 jiwa, sedangkan belasan korban lainnya mengalami luka-luka akibat longsor menghantam 8 mobil di Km 17 Koto Alam, Kecamatan Pangkalan (jalan yang menghubungkan Sumbar dan Riau).



Sementara itu, PLN mematikan listrik di beberapa wilayah terdampak banjir sehingga sistem komunikasi pun menjadi sulit. Beberapa daerah bahkan mengalami blank spot (nihil sinyal). “Lalu, pendataan warga terdampak banjir terutama di Kecamatan Pangkalan belum dapat dilakukan maksimal karena belum tembus ke lokasi sehingga data jumlah KK atau jiwa terdampak belum dapat dipastikan," ujar Sutopo.

Melihat massifnya dampak banjir dan longsor di Kabupatan Limapuluh Kota, Irfendi menetapkan status darurat bencana di wilayah tersebut. "Mulai saat ini, kita tetapkan darurat bencana untuk tujuh hari ke depan," ungkapnya pada Sabtu pagi (4/3), seperti yang dilansir dari laman Antara.

Sabtu (4/3), dilaporkan bahwa banjir mulai surut. Tim relawan ACT berhasil menembus jalur yang putus melalui jalur sungai. Bersama dengan Basarnas dan TNI, evakuasi warga yang terisolir dilanjutkan. Sementara itu, ACT lanjut mengirimkan tim relawan kedua untuk ikut bersama Basarnas dalam pencarian korban yang masih terjebak longsor.

Di hari yang sama, Tim Penanganan Bencana Kabupaten Limapuluh Kota yang dipimpin langsung Bupati Irfendi Arbi, Dandim Letkol Inf Heri Sumitro dan Kapolres AKBP Bagus Suropratomo Oktobrianto, menerjunkan 300 personel ke lokasi longsor untuk membantu jalannya proses evakuasi dan pembersihan material longsor.

Hingga saat ini, bantuan logistik sangat dibutuhkan bagi korban banjir dan longsor. “Selain logistik, kebutuhan mendesak lainnya adalah dapur umum. Di sini ada sekiranya 2000 KK di Kecamatan Pangkalan yang masih terisolir,” ungkap salah satu relawan ACT di lokasi bencana. []

Tag

Belum ada tag sama sekali