Bantu Anak Persiapkan Diri Sekolah Tatap Muka

Kegiatan belajar mengajar di era kebiasaan baru dapat membuat mental dan psikis anak kaget karena belum terbiasa. Dalam mengelola mental dan psikis anak, diperlukan pengertian dari para orang tua dan guru.

mengelola mental anak
Adaptasi kebiasaan baru, siswa MTs Budi Mulya Kota Palangkaraya duduk di kelas dengan berjarak. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA SELATAN – Pandemi Covid-19 membuat kegiatan belajar mengajar (KBM) dilakukan secara jarak jauh atau daring. Namun, sejak pandemi mereda, KBM kembali dilakukan secara tatap muka di sekolah. 

Perubahan dari KBM daring ke KBM tatap muka, bisa membuat siswa kaget. Anak-anak juga harus cepat beradaptasi dengan kebiasaan baru. 

Mengenai pengelolaan mental anak yang kembali ke sekolah, pakar neuparenting skill dr. Aisah Dahlan mengatakan, orang tua dan guru harus paham bahwa anak membutuhkan adaptasi. Sehingga jangan marahi anak.

“Anak masih ingin main bersama, enggak jaga jarak, jangan dimarahi. Atau anak melepas masker, kalau di sekitarnya tidak ada orang, kasih keringanan tiga menit lepas, nanti dipakai lagi. Jadi kalau dimarahi, emosi anak bisa drop ke rasa takut, sedih, atau apatis,” kata dr. Aisah dalam webinar "Parenting Islami" yang diselenggarakan bersama Aksi Cepat Tanggap, Jumat (14/1/2022). 

Selanjutnya saat anak mengatakan bosan, kesal, capek, enggak mengerti, atau lapar, maka harus dipahami karena emosi mereka belum stabil. Cara untuk memahaminya adalah mendengarkan anak, lalu memvalidasinya, kemudian tidak terburu-buru memberi nasihat, terakhir mencari tahu kenapa. 

“Dengarkan kalau anak ngomong ‘bunda aku capek harus sekolah lagi’, lalu memvalidasinya ‘Iya Nak, capek. Bunda atau Ibu guru ngerti’ Itu saja dulu. Anak-anak bukan mau nasihat, cuma mau dimengerti. Cara untuk mengerti adalah mendengarkan,” jelasnya.


Acara Parenting Islami bersama dr. Aisah Dahlan yang dilakukan via zoom dan Youtube. (ACTNews)

Kemudian cara mengelola emosi anak, tambah dr. Aisha, pertama adalah orang tua atau guru harus menjadi teladan dalam mengelola emosi terlebih dulu. Melihat orang tua atau gurunya ahli dalam mengelola emosi, nanti hal itu masuk ke dalam otak anak dan dapat membangun kecerdasan emosi anak. 

“Karena kecerdasan emosi membantu kecerdasan adaptasi. Lalu kecerdasan adaptasi dapat membantu kecerdasan intelektual,” ucapnya. 

Kedua kenalkan ragam emosi kepada anak. Emosi manusia itu ada empat jenis yakni sedih, takut, marah, dan senang. Orang tua perlu mengatakan kepada anak kalau lagi sedih, takut, marah, dan senang boleh bercerita. 

Setelah mengajarkan ragam emosi, anak diberi pengertian kalau emosi itu hal yang wajar. Langkah selanjutnya adalah orang tua atau guru dengan anak harus saling belajar menceritakan emosi. 

“Begitulah cara mengelola mental dan psikologis anak. Mental dan psikologis adalah cara berpikir dan berperasaan. Sedangkan cara berpikir dan berperasaan itu dipengaruhi oleh emosi,” jelasnya.[]