Bantuan Air Bersih Hadir di Tengah Kekeringan di Karangasem

Hujan yang tak turun dalam beberapa bulan terakhir berdampak pada keringnya sumber air di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali. Warga harus rela jauh mengambil air dengan medan jalan yang berat.

Bantuan Air Bersih Hadir di Tengah Kekeringan di Karangasem' photo

ACTNews, KARANGASEM – Di pekan pertama dan kedua bulan Juli ini, Aksi Cepat Tanggap (ACT) mulai mendistribusikan air bersih ke desa-desa terdampak kemarau di Bali. Kekeringan sudah mulai terjadi di beberapa titik di Pulau Bali, mengakibatkan warga kesulitan mendapatkan air.

Beberapa desa di Karangasem, Kabupaten tempat Gunung Agung kokoh berdiri, terpantau sudah mengalami kekeringan. Hal ini disampaikan oleh Arif Marsudi selaku Kepala Cabang Aksi Cepat Tanggap (ACT) Bali.

“Kecamatan Rendang mencakup Gunung Agung hingga lerengnya di bagian barat. Saat ini di Kecamatan Rendang banyak desa yang mengalami kekeringan. Kondisi ini membuat warganya harus turun gunung untuk mencari sumber air. Jalan naik-turun dan berkelok, serta beban membawa air menjadi tantangan warga untuk membawa air ke rumah,” ungkap Arif Marsudi ACT  Bali, Selasa (9/7).

Hari tanpa hujan yang telah berlangsung cukup lama di Karangasem. Membuat persediaan air dalam tandon yang biasa masyarakat tampung mulai menipis persediaannya.

Senin (8/7) kemarin, ACT Bali mendistribusikan air bersih ke Kecamatan Rendang, tepatnya di Desa Menanga dan Banjar Belatung. Sebanyak 5 ribu liter air diberikan untuk mencukupi kebutuhan air ratusan kepala keluarga. “Air kami ambil dari sumber air di kaki Gunung Agung. Kondisi medan yang menantang membuat tim agak sulit mencapai desa,” tambah Arif.

Dibantu relawan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Karangasem, pendistribusian berjalan lancar. Simpan, warga Menanga mengatakan, sangat terbantu dengan adanya bantuan air ini. Setidaknya, warga tak perlu bolak-balik ke sumber air yang jauh dari permukiman untuk beberapa waktu ke depan.

Tak hanya melakukan pendistribusian air bersih, ACT bersama MRI juga melakukan ramah-tamah ke warga. Kegiatan ini sekaligus memperkenalkan ACT dan MRI Bali di kalangan warga desa dan sekitarnya.

Seperti di Jawa, di Bali dampak kemarau telah dirasakan oleh sebagaian wilayahnya. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika pada Kamis (27/6) lalu merilis data wilayah Indonesia yang berpotensi mengalami kekeringan di awal musim kemarau ini. Pulau Bali diberikan warna merah sebagai tanda “awas”. Curah hujan sangat rendah di wilayah Bali, dengan hari tanpa hujan (HTH) yang cukup lama dalam beberapa bulan terakhir.

Dalam sepekan ini, ACT Bali akan mendistribusikan air di wilayah Karangasem lainnya. Rahman selaku Ketua MRI Karangasem mengatakan, air akan dikirimkan ke wilayah yang terdampak kekeringan, seperti di Banjar Batusesah.

“Kalau mereka enggak ambil air sendiri atau mendapat bantuan air, warga harus membeli untuk kebutuhan konsumsi, kebersihan dan pertanian. Harganya 150 ribu rupiah per 4 ribu liter. Kalau terus membeli air, itu akan memakan biaya besar. Apalagi kemarau berlangsung panjang. Di Menanga, ACT menjadi yang pertama kali mendistribusikan air bersih. Sebelumnya belum pernah ada,” jelasnya, Senin (8/7). []

Bagikan