Bantuan Idulfitri Melipur Kesedihan Diaspora Uighur

Diaspora di Uighur di Kayseri, Turki masih merasakan Lebaran jauh dari tanah kelahiran dan keluarga mereka di Xinjiang, Cina. Untuk menghibur mereka di hari raya, ACT memberikan bantuan berupa zakat fitrah dan paket Idulfitri pada Sabtu (23/5) lalu.

Bantuan Idulfitri Melipur Kesedihan Diaspora Uighur' photo
Serah terima bantuan kepada salah satu penerima manfaat, anak diaspora Uighur di Kayseri, Turki. (ACTNews)

ACTNews, KAYSERI – Idulfitri selalu dirindukan oleh muslim di seluruh dunia. Makanan-makanan khas yang hanya hadir di hari raya, mengenakan pakaian baru dan tampil berbeda, hingga silaturahmi dengan keluarga yang lama tak bersua. Semua merayakan hari kemenangan yang fitri.

Namun bukan itu yang dirasakan diaspora Uighur di Kota Kayseri, Turki. Ramadan dan Idulfitri masih harus mereka lalui dengan mengungsi. Jauh dari tanah kelahiran mereka di Kota Xinjiang, Cina, rumah di mana seharusnya mereka tinggal.

Aksi Cepat Tanggap (ACT) membawa kebahagiaan untuk keluarga diaspora Uighur di Turki pada Sabtu (23/5) lalu. Lewat pemberian zakat fitrah dan paket Idulfitri, bantuan tersebut diharapkan membahagiakan mereka di hari raya.

“Pada Idulfitri 1441 Hijriah ini, kami memberikan zakat fitrah dan paket Idulfitri kepada 80 keluarga diaspora Uighur di Kayseri. Kami berharap bantuan ini dapat sedikit meringankan kesulitan mereka,” kata Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Response (GHR) – ACT. Sebelumnya, bantuan pangan Ramadan juga diberikan kepada diaspora Uighur di Istanbul, Turki.


Salah satu anak diaspora Uighur yang menerima bantuan zakat fitrah dan paket Idulfitri dari ACT. (ACTNews)

Diaspora Uighur di Turki hingga kini masih belum bisa kembali ke tanah kelahirannya. Hayrı Gül salah satunya. Perempuan berusia 42 tahun asal Uighur yang kini tinggal di Istanbul. Dilansir dari Republika, ia terpaksa meninggalkan suami dan putra bungsunya, karena negara tidak akan mengeluarkan paspor mereka.

Kontak dengan Gül dengan keluarganya berhenti di akhir tahun 2016 lalu. Ia tak tahu lagi keadaan mereka sekarang, apakah masih hidup atau tidak. Tapi yang jelas di Istanbul, Gül bersyukur bahwa setidaknya beberapa dari 12 juta penduduk Uighur yang bertahan telah menemukan tempat untuk menjaga warisan budaya mereka tetap hidup.


“Saya merindukan tanah air dan keluarga saya setiap hari. Saya banyak menangis karena rasa sakit,” kata Gül saat ditemui di rumahnya di lingkungan Zeytinburnu, Istanbul,
Senin (25/5) silam. “Saya suka hidup di Istanbul. Saya berharap mereka (suami dan anak) bisa berada di sini juga. Anak-anak saya memiliki kebebasan di sini yang tidak dapat kami bayangkan sebelumnya,” ucap Gül menambahkan.

Di pengasingan, budaya Uighur telah berkembang dengan cara yang tidak mungkin di Xinjiang. Beberapa penerbit, toko buku dan pusat kebudayaan yang dilarang di sana, justru dibuka di Istanbul. Seniman dan intelektual memiliki platform dan audiens untuk pekerjaan mereka melalui lokakarya pemasaran. Banyak di antaranya juga yang dijalankan oleh kaum wanita yang menjual pakaian tradisional dan peralatan rumah yang berwarna-warni. []

Bagikan