Bantuan Pangan Dermawan Kembali Menyapa Keluarga Yaman

Bulan November, keluarga penyintas konflik di Sana’a kembali menerima bantuan pangan yang terdiri dari makanan pokok.

Bantuan Pangan Dermawan Kembali Menyapa Keluarga Yaman' photo
Puluhan keluarga di Sana’a menerima bantuan pangan pada bulan November ini. (ACTNews)

ACTNews, SANA’A – Hari kembali berjalan di ibu kota Yaman, Sana’a. Salah satu kota tua warisan budaya itu kini menjadi medan pertempuran antara sejumlah pemilik kepentingan. Di Sana’a, masyarakat sipil menjadi korban yang tidak jarang membuat mereka harus bergantung pada bantuan kemanusiaan.

Awal November lalu, paket pangan berisi makanan pokok seperti gula, tepung, minyak, beras, dan kacang-kacangan diberikan kepada keluarga yang menjadi korban serangan. Andi Noor Faradiba dari tim Global Humanity Response (GHR) – ACT melaporkan, suplai pangan ini yang merupakan amanah dari para dermawan Indonesia ini telah berlangsung sejak Juli lalu.

“Ada 50 keluarga atau setara 250 jiwa menjadi penerima manfaat bantuan pangan yang tim lakukan sejak tanggal 1 November lalu,” kata Faradiba. Perang membuat ekonomi Yaman kolaps. Bahkan, sebagian anak harus meregang nyawa karena mengalami malnutrisi akut.

Keadaan di Yaman yang terus memburuk juga dilaporkan langsung mitra Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Yaman. Menurut data yang diterima tim GHR - ACT, lebih dari 20 juta orang di Yaman mengalami kerawanan pangan.

"Untuk pertama kalinya, Klasifkasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC) telah mengonfirmasi bencana kelaparan bencana di beberapa lokasi. Diperkirakan 7,4 juta orang memerlukan layanan untuk mengobati atau mencegah kekurangan gizi, termasuk 3,2 juta orang yang membutuhkan perawatan atas kekurangan gizi akut, mereka adalah dua juta anak di bawah usia lima tahun dan lebih dari satu juta wanita hamil dan menyusui," lapor Faradiba akhir bulan lalu.

Selain kerawanan pangan, korban jiwa di Yaman mencapai angka memprihatinkan. Melansir The Guardian, hingga Oktober 2019, total korban meninggal dunia mencapai 100.000 jiwa sejak awal 2015. Ditulis The Guardian, bulan April adalah bulan paling mematikan tahun ini. Lebih dari 2.500 dilaporkan meninggal, dibandingkan dengan 1.700 pada bulan September tahun sebelumnya. Jumlah kematian akibat perang yang dilaporkan pada kuartal ketiga 2019 adalah jumlah terendah sejak akhir 2017, namun jumlah korban sipil meningkat dari kuartal sebelumnya. Provinsi Taiz, Hodeida, dan Jawf tercatat paling parah dengan lebih dari 10.000 orang dilaporkan tewas di masing-masing daerah sejak 2015.[]

Bagikan