Bantuan Pangan Kembali Jangkau Pengungsi Internal Rohingya di Myanmar

Sejumlah warga Rohingya masih tinggal di kamp pengungsian di wilayah Myanmar. Mereka adalah penduduk yang memutuskan tidak ikut mengungsi ke Bangladesh, melainkan ke desa di kota sebelah. Kehidupan mereka pun jarang tersentuh bantuan dari luar.

Bantuan Pangan Kembali Jangkau Pengungsi Internal Rohingya di Myanmar' photo
Seorang pengungsi Rohingya di Maungdaw, Myanmar, mendata diri untuk mengambil jatah bantuan pangan. Sebanyak 200 keluarga Rohingya di Maungdaw, Buthidaung, dan Rathedaung menerima bantuan paket pangan dari dermawan Indonesia. (ACTNews)

ACTNews, MAUNGDAW, BUTHIDAUNG, RATHEDAUNGShomso Alom (48) amat bersyukur hari itu. Warga kamp pengungsian Kyi kan Pyin di Maungdaw, Rakhine, menjadi salah satu penerima bantuan paket pangan dari dermawan Indonesia.

“Saya mempunyai 10 anggota keluarga di rumah. Saya mempunyai 5 anak yang kini masih berusia di bawah 18 tahun dan saya satu-satunya tulang punggung keluarga. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada ACT Indonesia karena paket bantuan pangan yang diberikan di masa-masa yang sulit ini, terutama karena kami berada di dalam kamp,” ungkap pengungsi yang sehari-hari mengabdi sebagai guru di kamp pengungsian ini, melalui penerjemah.

Blokade membuat para pengungsi tidak dapat menjalani hari dengan leluasa. Mereka tidak dapat mengakses wilayah lain untuk bekerja dan menyambung hidup, bahkan seperti memancing, berladang, dan ke hutan untuk memotong kayu dan bambu. “Kami terblokade secara penuh, check-point di mana-mana,” tambah Alom.

Muhibullah, pengungsi dari Kota Rathedaung, juga amat bersyukur dengan bantuan pangan yang ia terima. Seluruh rumah dan barang-barang milik keluarga Muhibullah dibakar dan dihancurkan militer pada Agustus 2017. Kejadian itu memaksa Muhibullah meninggalkan rumah mereka di Desa Doe Ok The Ma Ma di Moidaung.

“Telah tiga tahun kami di sini dan saya mempunyai tiga orang anak. Tidak satu pun dari mereka yang bisa melanjutkan pendidikan. Kami dalam situasi yang sulit saat ini. Tidak ada yang mempunyai peluang pekerjaan di sini,” cerita Muhibullah.

Sucita Ramadinda dari tim Global Humanity Response (GHR) – Aksi Cepat Tanggap melaporkan, 200 keluarga menerima paket pangan pada Desember 2019 lalu. “Seluruh orang Rohingya terblokade di dalam kamp tempat mereka tinggal. Meskipun mereka mempunyai ladang, mereka tidak diijinkan untuk menggarap ladang tersebut,” kata Sucita.

Selain tidak dapat beraktivitas secara bebas, sebagian pengungsi adalah keluarga-keluarga yang rumahnya dibakar pada Agustus 2017 lalu. Mereka memutuskan tidak ikut mengungsi ke Bangladesh. Mereka tidak tersentuh bantuan dari luar, baik dari pemerintah maupun lembaga kemanusiaan lain. “ACT satu-satunya NGO yang tetap memberikan bantuan pada mereka dari tahun 2018 hingga kini,” pungkas Sucita.[]


Bagikan