Bantuan Pangan Rekahkan Senyum Sarinah

Sarinah tinggal seorang diri usai suaminya meninggal karena sakit pada tahun 2019.

Sarinah janda miskin di Ibu Kota
Sarinah kini ia berjuang seorang diri dengan tenaga yang terbatas.. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA SELATAN — Sarinah (57), wanita paruh baya yang kini hidup seorang diri di bangunan petak ukuran 3x4 di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Temboknya berdinding triplek dengan tambalan karung tepung. Hanya ada satu buah lampu yang redup. Belum lagi ketika diguyur hujan deras, rumahnya kerap bocor dan kebanjiran.

Sarinah tinggal seorang diri usai suaminya meninggal karena sakit pada tahun 2019. Kini ia berjuang seorang diri dengan tenaga yang terbatas. Ia pun bekerja menjadi seorang buruh cuci. Sesekali dia diminta untuk membersihkan rumah atas permintaan orang.

“Sehari saya dikasih upah Rp20 ribu. Alhamdulillah, bisa untuk beli beras dan lauk hari itu. Cukup untuk makan satu kali,” cerita Sarinah. Selain urusan makan, Sarinah pun keberatan membayar kontrakan Rp2 juta setahun.

 

Kata Sarinah, ada satu hal yang selalu ia syukuri meski keadaan ekonomi tidak begitu mendukung. Yaitu ketika ia selalu diberikan kesehatan.

“Alhamdulillah, Allah masih kasih saya kesehatan, Allah percaya saya mampu, Alhamdulillah saya sehat tanpa kurang suatu apapun sampai dengan saat ini,” katanya.

Hari itu, Operasi Paket Pangan menyasar Kelurahan Cikoko, Pancoran. Sarinah yang hadir seorang diri mendapat bantuan paket pangan dari ACT. Dengan menukar kupon yang diberikan panitia, lalu ia membawa pulang sembako paket lengkap.

Wajahnya berubah seketika. Senyum lebar di wajah tidak bisa disembunyikan. Seraya ia berdoa dan mengucap syukur berulang kali. Paket pangan yang sudah ia terima, kata Sarinah sangat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bantuan ini katanya cukup untuk satu minggu.[]