Banyak Kenangan Manis, Wintari Bersiap Kembali Ke Wamena

Pascakonflik, tak sedikit kenangan manis masih diingat pengungsi konflik Wamena di Jayapura. Sebagian dari mereka tetap memiliki rencana untuk kembali ke ibu kota Jayawijaya itu.

Banyak Kenangan Manis, Wintari Bersiap Kembali Ke Wamena' photo
Kedatangan warga Wamena di Bandara Sentani untuk mengungsi di Jayapura, Jumat (4/10). Mereka bakal menempati berbagai pusat pengungsian di Jayapura. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, JAYAPURA – Semangat untuk kembali lagi ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya begitu besar bagi seorang Wintari (34) warga Wamena asal Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Ia bersama kedua anaknya, Naya (4) dan Fikar (10), pada Rabu (9/10) lalu masih berada di pengungsian depan Rumah Sakit Bhayangkara, Jayapura. Namun, mereka telah mendaftarkan diri menjadi salah satu penumpang hercules milik TNI tujuan Wamena dalam beberapa waktu ke depan.

Wintari dan suaminya adalah pedagang kelontong di Kota Wamena. Ketika konflik kemanusiaan pecah di Wamena, toko mereka terpaksa tutup, namun sang suami, Rimbang tetap bertahan di Wamena dan tidak ikut mengungsi untuk menjaga harta bendan mereka.

“Suami tak ikut mengungsi ke Jayapura, tetap di Wamena. Dalam waktu dekat saya dan anak-anak akan kembali ke Wamena. Suami dan kepala desa tempat saya tinggal mengabarkan kalau kondisi di sana berangsur aman,” ungkap Wintari ketika sebagian besar pengungsi memilih pulang ke kampung halamannya di luar Papua, Rabu (9/10).


Wintari (kanan) dan Naya (kiri) berada di pengungsian depan RS Bhayangkara, Rabu (9/10). Mereka telah mendaftarkan diri untuk ikut pesawat hercules milik TNI guna kembali ke Wamena. (ACTNews/Eko Ramdani)

Wintari menambahkan toko kelontong yang ia miliki selalu ramai pembeli. Selain warga pendatang, yang paling banyak datang berbelanja ke tokonya malah warga asli Papua. Wintari mengaku selama tinggal di Wamena aman-aman saja. Interaksi dan sosialisasi dengan sesama pendatang dan warga asli Papua juga baik-baik saja. Soal barang dagangan, Wintari mengaku tokonya menjual berbagai macam barang kebutuhan pokok yang diantaranya diperoleh dari warga lokal. “Barang dagangan saya memenuhi kebutuhan warga setempat, beberapa produk dari warga lokal pun tak jarang ikut saya jual-belikan,” katanya.

Warga asli Papua, kenang Wintari, sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri. Ia mengingat, ketika suaminya sakit, tetangganya yang merupakan penduduk lokal yang menjaga di rumah sakit. Sedangkan Wintari harus mengurus kedua anaknya yang masih kecil di rumah.

Hal serupa dikenang Ahmad Jumairi (41) warga Wamena asal Probolinggo, Jawa Timur. Pria yang berprofesi sebagai pengendara ojek motor ini mengenang penduduk asli Wamena sebagai orang yang ramah dan baik. “Tak jarang mereka (penumpangnya) membayar lebih,” ungkap Ahmad ketika ditemui Aksi Cepat Tanggap (ACT) di pengungsian Batalyon Infanteri 751 Sentani, Selasa (8/10).

Berbeda dengan Wintari yang bersiap kembali ke Wamena, Ahmad dalam waktu dekat ini Ahmad belum memutuskan kembali ke sana. Ia masih mengalami trauma, terlebih ia mendapatkan luka fisik ketika konflik pecah pada Senin (23/9) lalu. Pada Kamis (10/10), Ahmad dipulangkan ke Probolinggo menggunakan pesawat oleh ACT.[]

Bagikan