Bayar Zakat atau Pajak?

Zakat dan pajak merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh muslim juga warga negara. Kewajiban keduanya tidak menggugurkan satu sama lain.

zakat dan pajak
Ilustrasi. Bayar pajak atau zakat? (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA SELATAN – Kondisi saat ini, muslim seperti memiliki beban ganda terkait juga statusnya sebagai warga negara. Sebagai muslim, maka wajib membayar zakat. Namun di sisi lain, sebagai warga negara juga diwajibkan membayar pajak. 

Sebagian orang berpandangan bahwa, ketika sudah membayar zakat, maka menganggap bahwa dirinya tidak wajib membayar pajak. Namun sebaliknya, juga ada sebagian orang yang menganggap ketika sudah membayar pajak, maka tidak wajib membayar zakat. 

Kementerian Agama dalam buku Panduan Zakat Praktis mengungkapkan, para ulama sepakat bahwa sudah menjadi hak negara untuk mewajibkan warganya membayar pajak. Zakat juga tetap wajib sebagai konsekuensi agama. Keduanya sama-sama penting. 

Sebagaimana diterangkan Kemenag, kewajiban mengeluarkan zakat tergantung harta wajib zakat setelah dikurangi untuk pajak. Jika harta menunjukkan sama atau lebih dari nisab maka harus membayar zakat, dan sebaliknya, jika harta menunjukkan angka kurang dari nisab maka tidak berkewajiban membayar zakat. 

Sebagai contoh seorang pedagang yang untung Rp25 juta, sementara itu ia harus membayar pajak pada pemerintah sebanyak Rp5 juta. Maka, zakat yang harus dikeluarkan adalah 2,5% dari Rp20 juta.

KH Ibrahim Hosen Ketua Komisi Fatwa MUI menyampaikan, zakat dan pajak di dalam Islam adalah wajib. Ini guna menghimpun dana yang diperlukan untuk kesejahteraan dan kemaslahatan umat.

“Perbedaannya hanya dari segi penetapan hukumnya. Zakat penetapan hukumnya berdasar agama (syar’i) melalui ayat Al Quran dan Hadis Nabi, sedangkan pajak kewajibannya berdasar penetapan atau ijtihad ulil amri (pemerintah) atau UU. Kewajiban yang satu tidak menggugurkan kewajiban yang lain,” kata Ibrahim Hosen dikutip dari Baznas Yogyakarta

Ketua Umum MUI 1994-1990 KH Hasan Basri menegaskan, zakat mempunyai kekhususan, yakni dari umat Islam, oleh umat Islam dan untuk umat Islam. Lain halnya dengan pajak. Pajak mempunyai ruang lingkup dan jangkauan yang lebih luas, baik sumber maupun pemanfaatannya.[]