Bayi Asal Tegal Hidup dengan Kaki Bengkak

Altan tak bisa jalan dengan normal. Kesusahan menopang tubuh dengan kedua kakinya. Rasanya mungkin ingin sekali jalan, ia pun kerap mengesot. Hal itu membuat bengkak di kakinya semakin parah, lecet bahkan berdarah. Sakit pun tak kuasa tertahan.

Altan Alami Bengkak di Kaki
Altan, bayi berusia tiga tahun yang mengalami bengkak di kakinya. (ACTNews)

ACTNews, BREBES — Sejak di dalam kandungan, Muhammad Altan Multakhi (3), mengalami kondisi cacat pada kaki. Ia lahir 3 Juli 2018, rumahnya di RT 01 RW 03, Desa Tanjung, Kecamatan Tanjung, Brebes. Saat dilahirkan, kaki Altan membengkak.

Awalnya, orang tua Altan menganggap kondisi anaknya ini tak ada kejanggalan, seolah-olah bengkak biasa dan akan segera sembuh. Akan tetapi, semakin lama kaki kanan Altan membesar tiga kali lipat dari kaki kirinya. Dari lutut, telapak kaki sampai dengan jari jemari tenggelam dalam bengkaknya.

Altan coba menjalani keseharian layaknya anak-anak lain. Ia belajar hingga bermain dengan ceria. Tubuhnya memang belum mampu membawa beban kakinya yang membesar, begitu pun kakinya belum kuat menopang berat tubuh. Altan pun memilih mengesot. Kondisi ini membuat bengkak di kakinya semakin parah karena terluka, lecet bahkan berdarah.

Walau Altan ingin beraktivitas layaknya anak-anak lain, tetapi rasa takut sering menyelimuti saat ia bertemu banyak orang, apalagi orang baru. Altan sering menangis karena kakinya menjadi tontonan orang. Orang lain pun tak jarang menjaga jarak karena melihat kondisi kaki Altan.

Melihat kondisi anaknya, orang tua Altan bukan tanpa usaha mengobati. Mereka pernah membawa Altan ke salah satu dokter di Brebes, tetapi, dokter belum bisa mendiagnosis penyakit apa yang Altan alami.

Tak banyak memang pengobatan yang Altan dapatkan. Hal tersebut bukan tanpa alasan. Ekonomi orang tua yang pas-pasan membuat Altan harus bertahan dengan kondisi kaki yang membengkak. Sang ayah Sudirman (41) merupakan seorang kuli bangunan dengan penghasilan yang hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Sedangkan ibunya bernama Dewi (20) hanya mengurus rumah tangga. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana bersama nenek serta saudara-saudara Altan yang masih kecil.

Mengetahui kondisi ini, Aksi Cepat Tanggap (ACT) beberapa hari lalu berkesempatan bersilaturahmi ke kediaman orang tua Altan. Bantuan pengobatan akan diberikan. “Untuk tahap awal direncanakan dibawa ke RS Ortopedi Soeharso di Solo buat screening. Nanti kita hasilnya kita tunggu buat memastikan tindakan selanjutnya. Mohon doa dan dukungan dari seluruh dermawan untuk ikhtiar mengobati Altan,” jelas Hamzah Asadudin dari tim Program ACT Tegal.[]