Bea Pendidikan Indonesia, Upaya Bersama Angkat Pendidikan Anak Bangsa

Bea pendidikan untuk guru, anak-anak patriot KRI Nanggala-402, dan siswa-siswi Indonesia adalah ikhtiar dalam menyelesaikan permasalahan pendidikan bangsa. Program bantuan ini juga sebagai bentuk semangat bersama untuk mengangkat pendidikan Indonesia menjadi lebih baik.

bea pendidikan indonesia
Pemberian bantuan program Bea Pendidikan Indonesia kepada guru-guru TPQ di Jawa Timur. (ACTNews)

ACTNews, SURABAYA – Pandemi Covid-19 juga berimbas pada sektor pendidikan. Data Jaringan Sekolah Islam Terpadu Indonesia, pada 2020 lalu, ada 50-56 persen sekolah mengalami kesulitan finansial, terutama sekolah swasta. Ini akibat banyak orang tua atau wali siswa meminta keringanan pembayaran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP).

Kesulitan finansial sekolah membuat operasional sekolah terganggu. Dampaknya, gaji-gaji guru yang bersumber dari pembayaran siswa mengalami pemotongan. Tak hanya itu, guru-guru honorer yang gajinya bersumber dari dana APBD juga terkena imbasnya. Dana APBN dan APBD sebagian besar difokuskan untuk menangani pandemi Covid-19.

Pada pihak siswa, kendala pendidikan saat Covid-19 juga terjadi. Permintaan keringanan pembayaran SPP, baik keringanan pemotongan atau penundaan pembayaran, menandakan ekonomi orang tua atau wali tidak baik-baik saja. Siswa juga kesulitan mengikuti pendidikan berbasis daring karena membutuhkan biaya tambahan. Sehingga, upaya konkret untuk membantu para guru dan siswa amat dibutuhkan.

Menurut Presiden Aksi Cepat Tanggap Ibnu Khajar, salah satu cara upaya membantu para guru dan siswa adalah dengan bantuan bea pendidikan. Upaya ini lah yang ACT tempuh dengan menggulirkan program Bea Pendidikan Indonesia (BPI) pada Kamis (3/6/2021) di Surabaya, Jawa Timur. Program ini sendiri merupakan bagian dari gerakan Bersama Angkat Indonesia.

“Pemberian bea pendidikan merupakan bentuk semangat bersama untuk mengangkat pendidikan Indonesia. Permasalahan pendidikan adalah tugas bersama untuk menyelesaikannya. Jadi hari ini kita ajak seluruh masyarakat Indonesia untuk memberikan solusi bagi permasalahan bangsa ini, karena bangsa ini milik kita bersama,” ujar Ibnu, Kamis (3/6/2021).

Untuk para guru, program Bea Pendidikan Indonesia berupaya mendukung perjuangan mereka sebagai garda terdepan pendidikan anak bangsa. Diharapkan para guru tetap semangat meningkatkan kualitas dan kuantitasnya untuk mengajar. Hal ini mengingat, kepada para guru lah anak-anak negeri ini dititipkan untuk dididik menjadi generasi penerus bangsa yang mampu membawa Indonesia menjadi lebih baik. 

Selain guru, bea pendidikan juga diberikan kepada anak-anak patriot syuhada KRI Nanggala-402 yang telah gugur dalam menjaga negeri. Terakhir bea pendidikan diberikan kepada siswa-siswi Indonesia sebagai penerus dan calon pemimpin masa depan Indonesia.

“Kami ingin bangsa ini semakin kuat. Untuk anak-anak prajurit dan siswa Indonesia agar jangan pernah putus asa dalam menghadapi masa depan. Tetap tegar dan istikamah dalam belajar sampai menjadi orang-orang terbaik bangsa ini, sebagai calon-calon prajurit penjaga dan pemimpin Indonesia,” lanjut Ibnu.

Penyerahan bantuan bea pendidikan dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan pihak-pihak terkait. Khofifah mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan ACT kepada guru-guru yang terdampak pandemi Covid-19. Menurut Khofifah, banyak guru menyebut pengabdiannya menjadi pendidik itu semata-mata mencari berkah atau tabarrukan.

“Karena ongkos buat beli bensin atau ngojek lebih besar daripada salary-nya, jadi (menjadi guru) banyak yang sebut (sebagai) tabarrukan. Pandemi Covid-19 hampir dirasakan oleh banyak lini, dan ACT serta YP3I hadir untuk memberikan sapaan kesejahteraan bagi mereka. Mudah-mudahan seluruhnya beriring dengan rida dan berkah Allah,” ujar Khofifah.[]