Beaguru Nyalakan Semangat Ajar Guru di Maluku

Bertahun-tahun mengabdikan diri sebagai guru bergaji rendah tak mematahkan semangat Ode dan Hayati. Mereka terus mendidik anak-anak di Maluku untuk mencapai cita-cita mereka.

Beaguru Nyalakan Semangat Ajar Guru di Maluku' photo
Global Zakat-ACT menyerahkan bantuan biaya hidup kepada sembilan guru prasejahtera di Yayasan Al Madani, Kota Ambon, Maluku. (ACTNews)

ACTNews, AMBON – Masih melanjutkan ikhtiar menyejahterakan guru-guru Indonesia yang sangat membutuhkan, Global Zakat-ACT bertandang ke Yayasan Al Madinah di Kota Ambon, Maluku, Senin (2/12). Di sekolah ini, Global Zakat menyerahterimakan beaguru dari program Sahabat Guru Indonesia yang diluncurkan 25 November 2019 lalu.

Kepala Cabang ACT Maluku Wahab Loilatu mengatakan, ada sembilan guru di Yayasan Al Madinah yang mendapatkan biaya hidup dari Global Zakat. Mereka semua merupakan guru honorer dengan gaji rendah. “Ini merupakan bentuk apresiasi atas pengabdian mereka di bidang pendidikan. Semoga ini bisa terus menyalakan semangat ajar mereka di tengah keterbatasan ekonomi yang ada,” jelas Wahab.

Salah satu guru yang menerima biaya hidup dari program Sahabat Guru Indonesia adalah Ode Syukur. Sudah tujuh tahun Ode mengabdikan dirinya sebagai guru di Yayasan Al Madinah, Desa Batu Merah, Kota Ambon. Ia mengajar puluhan murid. Tak ada gaji besar, jasanya dihargai Rp300 ribu per bulan dan dirapel per tiga bulan. Namun, ia rutin menerima tunjangan pangan berupa mi instan dan beras per bulannya dari sekolah tempatnya mengajar.

Murid-murid yang bersekolah secara gratis ini berpengaruh pada operasional sekolah, termasuk gaji guru-guru yang mengajar. Walau berpenghasilan rendah, guru-guru di sana tak patah semangat. Ode salah satunya. Guru Ilmu Pengetahuan Alam ini tetap semangat mengajarkan anak didiknya yang datang dari keluarga prasejahtera. Keikhlasan mengajarnya sebagai sebuah harapan agar anak didiknya dapat menjadi orang-orang hebat di kemudian hari.

“Kami (guru-guru) akan terus mengajarkan anak-anak di sini. Mereka punya cita-cita dan harus diraih,” ungkap Ode, Senin (2/12).


Selain Ode, ada juga Hayati (46) yang mengajar di Yayasan Al Madinah sejak tujuh tahun lalu. Jarak rumah dan tempat tinggalnya cukup jauh. Jika ia memiliki uang lebih, ia manfaatkan untuk memakai jasa ojek untuk mengantarkannya ke sekolah. Namun, ia kerap harus berjalan kaki untuk menghemat uang. “Dibilang lelah ya pasti, tapi kalau sampai sekolah hilang lelahnya karena melihat semangat anak-anak sekolah,” kata Hayati.

Per 6 Desember 2019, jumlah guru yang menerima biaya hidup dari program Sahabat Guru Indonesia ini sudah mencapai 139 guru. Mereka tersebar di berbagai lokasi. Untuk di wilayah Maluku sendiri sudah 13 guru yang mendapatkan beaguru. Wahab menambahkan, nantinya program ini akan terus memberikan biaya hidup ke guru-guru dengan keterbatasan ekonomi, tak hanya di Maluku, tapi juga seluruh penjuru negeri. []


Bagikan