Beaguru Nyalakan Semangat Ajar Guru di Pelosok Wajo

“Ini merupakan semangat bagi kami untuk terus membina anak didik,” ungkap Faizal, guru SDN 410 Akkotengengdi Kabupaten Wajo.

Ahmad Faizal (kiri) menerima biaya hidup dari program Sahabat Guru Indonesia. Ia merupakan guru yang mengajar di Wajo, Sulsel. (ACTNews)

ACTNews, WAJO Rasa syukur terlihat jelas pada dua guru prasejahtera yang mendapatkan bantuan biaya hidup dari Global Zakat-ACT Sulawesi Selatan, pada Rabu (29/4). Arni dan Ahmad Faizal merupakan guru honorer di SDN 410 Akkotengeng.

Arni dan Faizal merupakan guru yang tinggal di Dusun Totakki, Desa Akkotengeng, Kecamatan Sajoanging, Wajo. Bertahun-tahun mereka telah mengabdi menjadi guru dalam kondisi ekonomi yang prasejahtera. Selain menjadi guru, Arni sendiri merupakan seorang ibu rumah tangga, sedangkan Faizal merupakan petani.

Dengan adanya bantuan ini, Faizal mengungkapkan rasa terima kasihnya. Ia berharap, perhatian ke guru honorer dapat terus dilakukan. Pasalnya, mereka merupakan garis terdepan di dunia pendidikan, termasuk di pelosok negeri. “Ini merupakan semangat bagi kami untuk terus membina anak didik,” ungkapnya.

Sekolah sederhana


SDN 410 Akkotengeng yang halamannya sedang surut dari air laut. (ACTNews)

Jarak SDN 410 Akkotengeng cukup jauh dari Sengkang, ibu kota Kabupaten Wajo. Untuk sampai ke lokasi sekolah, perjalanan jalur darat menggunakan motor ditempuh selama 1 jam. Akan tetapi, tak cukup sampai di situ. Perjalanan masih harus ditempuh menggunakan perahu lebih kurang 30 menit. “Dari Kota Sengkang, jaraknya sekitar 40 kilometer,” jelas Ketua Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Wajo Firman.

SDN 410 Akkotengeng merupakan sekolah yang berdiri di atas air. Pelataran sekolah mereka laut yang merupakan bagian dari Teluk Bone. Perahu jadi salah satu transportasi yang bisa digunakan untuk menjangkau sekolah negeri ini. Letaknya yang cukup jauh dari permukiman membuat murid serta guru perlu perjuangan lebih untuk sampai ke sekolah.

Lapangan berlumpur jadi arena bermain anak-anak yang bersekolah di tempat ini. Pasang surut air laut menyebabkan lumpur di lapangan itu. Pohon bakau menjadi pemisah sekolah dengan lautan. “Pengalaman paling tak terlupakan itu, beberapa tahun lalu sekolah ini tidak memiliki perahu. Jadi harus jalan kaki sejauh 7 kilometer untuk mengajar ke sekolah,” kenang Faizal.

Di masa pandemi Covid-19 ini, Global Zakat-ACT terus memberikan biaya hidup bagi guru prasejahtera di Indonesia, yang turut terkena imbas wabah corona. Guru di SDN 410 Akkotengeng ini misalnya. Bantuan beaguru yang diberikan merupakan kelanjutan dari program Sahabat Guru Indonesia yang diluncurkan pada 25 November 2019 lalu. Hingga kini, telah ribuan guru yang mendapatkan biaya hidup dan jumlahnya akan terus bertambah. Mereka tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Riski Andriyani, Koordinator Program Sahabat Guru Indonesia, mengatakan, hingga pekan terakhir April 2020, program Sahabat Guru Indonesia telah menjangkau guru di 209 kota/kabupaten. “Bantuan biaya hidup ini telah diberikan ke guru yang mengajar di 596 sekolah,” jelasnya, Rabu (6/5).[]