Begini Hukum Kurban Online Menurut Para Ulama

Teknologi semakin mempermudah masyarakat menunaikan ibadah kurban, bahkan melalui daring tanpa terlibat langsung penyembelihan hingga distribusi. Namun, bagaimanakah hukum kurban online?

hukum kurban online
Berkurban online juga dapat dilakukan lewat https://globalqurban.com/ . (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA – Melalui perkembangan teknologi, berbagai kemudahan kini bisa diakses bahkan hanya dengan sentuhan ujung jari pada gawai. Salah satu kemudahan tersebut ialah dalam urusan ibadah, termasuk kurban yang sebentar lagi akan datang.

Jika dahulu pekurban harus membeli langsung ke lapak kurban yang umum buka dadakan di tepian jalan raya sampai terlibat langsung pemotongan di Hari Raya Iduladha atau selama tasyrik, sekarang semua bisa dilakukan lebih mudah. Berbagai lembaga kini menghadirkan kemudahan berkurban, yakni secara daring alias online, salah satunya Global Qurban-ACT. Selain kemudahan transaksi pembelian kurban, lewat kurban online, pekurban juga mengetahui waktu penyembelihan, lokasi, hingga dokumentasi hewan kurban saat disembelih dalam bentuk laporan yang dikirim juga secara online.

Selain menghadirkan kemudahan, tentu sistem ini menghadirkan pertanyaan. Bagaimana hukum berkurban online? Apakah sah ibadah kurban kita jika semua prosesnya dilakukan secara daring?


Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Miftahul Huda menjelaskan, kurban secara online yang dilaksanakan dengan akad tawkil, adalah sah. Kurban dengan akad tawkil yaitu pekurban mewakilkan kepada seseorang atau lembaga tertentu sejumlah uang untuk dibelikan hewan kurban, disembelihkan, dan didistribusikan.

"Dan ini adalah salah satu isi dari fatwa MUI nomor 36 tahun 2020 tentang pelaksanaan Iduladha dan penyembelihan saat pandemi Covid-19," tuturnya dilansir dari Republika.

Hukum tawkil kurban ini diperbolehkan. Dai Nasional yang juga Dewan Syariah ACT Ustaz Bobby Herwibowo mengatakan, Rasulullah pun pernah menyerahkan sebanyak 37 unta kepada Ali bin Abi Thalib untuk disembelih.


Sementara itu, dalam urusan transaksi pembelian hewan kurban yang juga dilakukan secara online, Ustaz Bobby mengatakan, diperbolehkan selama tidak ada transaksi ribawi atau yang mengandung larangan Allah.

"Selagi tidak ada transaksi ribawi, jawabnya boleh. Apalagi kalau upaya tersebut (transaksi online) justru untuk memudahkan, dan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat, terutama bagi yang membutuhkan," kata Ustaz Bobby.

Dalam kurban online ini, Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI KH Ahsin Sakho Muhammad menyampaikan, kepada lembaga yang menerima dana kurban harus bertanggung jawab. Hal ini dilakukan meliputi pembelian hewan kurban yang sesuai syarat untuk dikurbankan, proses penyembelihan hingga distribusi.

"Semua persyaratan yang ada di dalam kurban harus dipenuhi," ucap Kiai Ahsin dikutip dari Republika.

Kiai Ahsin juga mengingatkan kepada pekurban untuk menyerahkan dana kurban kepada lembaga yang terpercaya dan sudah resmi. Selanjutnya, ada kejelasan dalam transaksi, misalnya pada barang yang hendak dipesan. Selain itu, dana kurban dikirim ke rekening atas nama lembaga yang mengelola kurban. "Dan yang penting dalam muamalah adalah sudah berniat, ikhlas dan ridha. Kita tahu dan jelas semuanya," tambah Kiai Ahsin.[]