Begini Perbedaan Wakaf Uang dan Wakaf Melalui Uang

Wakaf uang dan wakaf melalui uang terdengar hampir sama. Namun, sebenarnya keduanya memiliki perbedaan dalam praktiknya.

wakaf uang
Ilustrasi. Wakaf melalui uang, para wakif langsung menyalurkan uang menjadi sebuah harta, misalnya membangun Sumur Wakaf yang dimanfaatkan orang banyak. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA – Wakaf tunai atau yang sama dengan wakaf uang, kini ramai diperbincangkan. Potensinya cukup besar. Bahkan wakaf uang disebut dapat membantu menuntaskan persoalan sosial. Dalam wakaf, ada dua istilah yang serupa, yakni wakaf uang dan wakaf melalui uang. Keduanya seolah serupa tetapi memiliki pengertian yang sebenarnya berbeda satu sama lain. Lantas, apa perbedaan wakaf uang dan wakaf melalui uang?

Sekretaris Divisi Kajian Ekonomi Syariah Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Mukhlis Rahmanto mengungkapkan, wakaf uang (waqf al-nuqud) adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan atau menyerahkan sebagian uang miliknya. Pemisahan ini bisa dalam jangka waktu tertentu atau selamanya untuk dikelola secara produktif yang hasilnya dimanfaatkan untuk keperluan ibadah dan atau kesejahteraan umum menurut syariah.

Misalnya seorang wakif memberikan Rp100 juta, maka uang itu harus digunakan secara produktif dan diambil manfaatnya. Uang yang diwakafkan memang habis, tetapi nilainya tidak berubah karena posisinya sebagai objek-harta wakaf.


“Sifat dari manfaat wakaf uang itu tidak langsung, melainkan harus dikelola dahulu hingga mendapatkan manfaatnya. Entah itu diinvestasikan dengan surat obligasi syariah atau sukuk, kemudian hasilnya bisa untuk, misalnya, membiayai muazin, imam masjid, atau yang lainnya,” kata Mukhlis.

Sementara jika wakaf melalui uang (waqf abra al-nuqud), maka wakif memisahkan dan atau menyerahkan sebagian uang miliknya yang digunakan langsung untuk mengadakan harta benda wakaf bergerak atau tidak bergerak untuk keperluan ibadah dan atau kesejahteraan umum menurut syariah.

Muhammadiyah misalnya mengumumkan program wakaf pembangunan sekolah yang nilainya Rp10 miliar. Untuk menunjang kelancaran program ini, publik kemudian menyumbang dengan jumlah yang beragam. Ada yang Rp100 ribu, Rp2 juta atau Rp500 juta. Demikian disebut wakaf melalui uang, sebab objek-harta wakafnya adalah sekolah, bukan uang.

“Dalam wakaf uang, uang diposisikan sebagai objek-harta wakaf. Jika wakaf melalui uang, kita memberikan sejumlah uang untuk dijadikan harta benda wakaf. Artinya, uang di sini diposisikan sebagai perantara harta benda wakaf,” tutur dosen Ekonomi Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu.

Dari sisi hukum, DR Oni Sahroni sebagai Anggota Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI)  berpendapat bahwa wakaf uang ataupun wakaf melalui uang diperbolehkan. Bahkan dianjurkan dalam Islam sebagaimana ditegaskan oleh para ulama salaf dan khalaf seperti ulama mazhab Malikiyah, Muhammad Abdullah al-Anshari dan Ibnu Taimiyah.

Kesimpulan ini juga menjadi keputusan Lembaga Fikih OKI Nomor 140 dan Standar Syariah Internasional AAOIFI di Bahrain tentang wakaf. Hukum-hukum ini sejalan dengan undang-undang wakaf yang memperbolehkan wakaf uang, yakni wakif dapat mewakafkan benda bergerak berupa uang (UU Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf Pasal 28).[]