Bekerja Sama Sediakan Pangan untuk Bangsa

Bagi Yahya, petani di Desa Ciptamarga, bertani adalah jihad. Ikhtiar merawat padi hingga menghasilkan beras terbaik untuk dimakan sesama manusia adalah amal yang ia lakukan sepenuh hati.

Dari Pabrik Beras Dinar Mas milik Dede Syamsudin beras-beras terbaik untuk Operasi Beras Gratis Aksi Cepat Tanggap diproduksi. Pabrik beras di Desa Ciptamarga, Kecamatan Jayakerta, Karawang, itu memasok ratusan ton beras sejak peluncuran OBG akhir Maret lalu. (ACTNews/Gina Mardani)

ACTNews, KARAWANG – Yahya (68) cukup banyak bercerita tentang kondisi petani di Desa Ciptamarga, Kecamatan Jayakerta, Karawang, Rabu (22/4) sore. Usai menghadiri sosialisasi program Masyarakat Produsen Pangan Indonesia, ayah tiga orang anak itu bersedia berbincang dengan ACTNews. Yahya bercerita soal kondisi pertanian di desanya kala pandemi hingga pengalaman bertaninya yang sudah lebih dari 30 tahun.

“Menurut saya, saya juga ikut berjihad. Saya ikut berjuang. Bertani itu saya berjuang. Pertama, saya berjuang mencari nafkah untuk keluarga saya, kedua untuk tetangga-tetangga saya. Mereka juga bisa membeli beras dengan harga yang tidak terlalu mahal. Lalu, beras kami juga bisa dirasakan oleh masyarakat kota,” tutur Yahya.

Yahya meyakini, tani bukan sekadar profesi, tetapi beramal yang dilakukan sepenuh hati. Setiap nasi dari padi yang ia tanam akan berubah menjadi energi dan digunakan untuk berbuat kebaikan oleh orang yang memakannya.

Kehadiran Aksi Cepat Tanggap di Desa Ciptamarga melalui program Masyarakat Produsen Pangan Indonesia pun disambut Yahya dengan antusias. Melalui program ini, Yahya berharap akan terjalin kolaborasi dalam menciptakan kesediaan pangan, terlebih di masa pandemi Covid-19.


Yahya (58) petani di Desa Ciptamarga, Kecamatan Jayakerta, Karawang. (ACTNews/Gina Mardani)

Aksi Cepat Tanggap melalui Program Masyarakat Produsen Pangan Indonesia menargetkan pemberdayaan 1.000 petani di nusantara. Para petani akan diberikan modal berupa bibit dan pupuk, kemudian hasil panennya akan kembali dibeli ACT dengan harga terbaik.

“Syukur alhamdulillah, di masa pandemi ini petani kesulitan memperoleh pinjaman untuk memulai tanam. Banyak perbankan yang tutup atau tidak menurunkan modal. Melalui pemberdayaan, kami tidak perlu meminjam,” kata laki-laki yang pernah menjadi tenaga kerja di Riyadh ini.

Keadaan petani di Desa Ciptamarga juga disampaikan Dede Syamsudin. Ketua Kelompok Tani Sri Asih sekaligus pemilik pabrik beras Dinar Mas Karawang ini adalah mitra ACT dalam menyediakan beras untuk Operasi Pangan Gratis. Dede bercerita, pandemi Covid-19 juga berdampak pada pembelian gabah petani.

“Sejumlah toko beras, termasuk yang di pasar-pasar besar banyak yang tutup. Dampaknya, harga jual beras jadi murah dan memengaruhi harga beli gabah,” kata magister teknik lulusan Jerman itu.

Dede juga mengatakan, pandemi Covid-19 juga membuat sejumlah petani kesulitan memperoleh modal panen, seperti modal membeli pupuk dan bibit. Bahkan, tidak jarang para petani meminjam kepada tengkulak. Kalau sudah begitu, kata Dede, petani mau tidak mau harus menjual gabah kepada tengkulak dengan harga yang sudah mereka tentukan.

“Atau ada juga yang berutang dulu untuk membeli pupuk, lalu dibayar saat panen. Kadang, ada hal yang memprihatinkan, misal satu kilogram pupuk harus dibayar satu ton gabah saat panen,” cerita Dede. Ia pun menaruh harapan program pemberdayaan ACT ini dapat berkesinambungan.

Sosialisasi pemberdayaan program MPPI kepada petani juga disampaikan langsung oleh Manajer Program Pemberdayaan Wakaf ACT Jajang Fadli. Ia mengatakan, pemberdayaan petani akan dilakukan di sejumlah provinsi. Sebagai tahap awal, pemberdayaan petani program MPPI dimulai di Karawang.

“Program ini tengah kita kembangkan di tiga kecamatan di Karawang, yaitu Kecamatan Rawamerta, Telagasari, dan Jatisari. Untuk program ini, target kita untuk sementara 1.000 petani di seluruh Indonesia. Namun sejauh ini program juga sudah dikembangkan di puluhan kabupaten/kota,” pungkas Jajang.[]