Belajar dari Gempa Lombok

Setahun pascagempa Lombok, banyak hal yang dapat dipelajari, mulai dari pola komunikasi bencana agar masyarakat dapat mengambil keputusan yang tepat, hingga penanganan bencana serta mitigasi.

Belajar dari Gempa Lombok' photo

ACTNews, MATARAM  Setahun lalu, tepatnya 5 Agustus 2018, gempa bumi magnitudo 7 mengguncang Pulau Lombok dan sekitarnya. Ratusan orang dinyatakan meninggal dunia, bangunan mengalami rusak ringan hingga berat, berbagai fasilitas umum turut rusak. Namun kini gempa telah berlalu setahun, Lombok sedang membangun kembali untuk kembali seperti sedia kala.

Semangat ini juga yang membuat Generasi Pesona Indonesia mengadakan dialog bersama Aksi Cepat Tanggap (ACT) Nusa Tenggara Barat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah NTB, Universitas Mataram, serta Komisi Penyiaran Indonesia Daerah. Dialog kebencanaan ini diadakan dalam rangka mengenang satu tahun berlalunya gempa Lombok. Bertempat di De-lima Guesthouse & Café Mataram, acara berlangsung hangat dan penuh kenangan ketika gempa.

Kepala ACT NTB Lalu Muhammad Alfian mengatakan, masyarakat Indonesia, khususnya Lombok, harus tetap waspada akan ancaman bencana yang mengintai. Hal ini mengingat posisi Indonesia yang masuk dalam zona cincin api pasifik yang dikelilingi lempeng benua besar serta banyak gunung api aktif.

“Acaman bencana ini perlu dikomunikasikan dengan baik oleh semua pihak. Tidak boleh ada kekeliruan apalagi kebohongan tentang bencana. Masyarakat berhak paham dan mengerti tentang bencana,” jelas Alfian, Senin (5/8).


Pakar Komunikasi Unram Agus Purbatim mengamini bahwa komunikasi yang baik perlu dilakukan untuk mengurangi ketidakpastian. Ketika gempa Lombok terjadi, sempat terjadi kekacauan kominikasi. Hal ini yang menjadi penyebab utama tersebarnya berita bohong atau hoax ke publik luas.

“Sifat bencana tidak pasti, maka komunikasi dapat mengurangi ketidakpastian itu. Bahkan Unram menginisiasi mata kuliah komunikasi bencana,”  ungkap Agus.

Berdasarkan data yang dihimpun Disaster Management Institute of Indonesia per 27 September 2018, korban jiwa gempa Lombok mencapai 564 orang. Belum lagi 445.343 jiwa terpaksa mengungsi serta 149.715 rumah rusak hingga kerugian mencapai lebih dari Rp 12 triliun. Angka ini jelas sangat memprihatinkan, sehingga perlu adanya penanganan bencana serta mitigasi yang tepat.

Kepala BNPB NTB Ahsanul Khalik menyebut, saat gempa awalan terjadi pada 29 Juli 2018 di Lombok, kejadian itu membuat masyarakat panik dan bingung bertindak. Begitu pula saat gempa 5 Agustus 2018 yang ternyata kekuatannya lebih besar. Fenomena ini memperlihatkan bahwa masyarakat belum sepenuhnya siap menghadapi bencana dan masih kurang mendapatkan mitigasi.

“Di tengah keterbukaan informasi, lebih mudah berita bohong tersebar. Hal ini juga yang menjadi penghambat percepatan pengetahuan masyarakat tentang kebenaran kabar serta keputusan untuk bertindak yang benar ketika bencana datang,” ungkap Ahsanul Khalik.

Ia berharap, mitigasi menjadi prioritas semua pihak karena ancaman bencana di Indonesia yang nyata. Beredarnya informasi juga perlu disaring oleh masyarakat. Hal itu dilakukan agar masyarakat tidak panik dan informasi dapat tersampaikan dengan jelas.

Dalam acara ini, dipamerkan juga foto-foto dokumentasi dari berbagai pihak, termasuk ACT, yang sejak hari pertama gempa sudah berada di lokasi bencana. Foto yang ditampilkan menjadi daya tarik tersendiri karena perbahan fisik lingkungan Lombok yang sangat berbeda dengan sebelumnya. []

Bagikan