Belajar Kerja Keras dari Petani

Selain istimewa dalam Islam, profesi petani juga mengajarkan tentang bekerja keras.

Wakaf Sawah Produktif Global Wakaf-ACT
Ilustrasi. Proses bertani mengajarkan tentang kemandirian menghasilkan sesuatu lewat kerja keras. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA – Satu kali Nabi Ibrahim pernah berdoa kepada Allah, yang kemudian tercatat dalam Surat Ibrahim ayat 37. “Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Memandang ayat ini, Ustaz Bendri Jaisyurrahman menyebutnya sebagai keistimewaan seorang petani. “Untuk mendapatkan buah-buahan tentu harus ditanam, diberikan upaya untuk bagaimana menghasilkan hasil yang maksimal. Itulah sejatinya profesi petani,” katanya dalam Kajian Peradaban Senin (19/4/2021) kemarin.

Ustaz Bedri menganggap dukungan kepada para petani harus kian ditingkatkan. Sebab menurut Ustaz Bedri, petani telah memberikan ikhtiar terbaik untuk masyarakat, “Betapa seorang petani fokus ketika menggarap sawahnya. Tidak ada petani pada saat dia menggarap sawahnya, disambi dengan main gadget, disambi dengan yang namanya ngobrol. Dia fokus dan dia bersabar menjaga ketika ada hama yang akan menghancurkan ladang dan sawahnya. Dia berjaga, bahkan ada yang sampai larut malam,” tutur Ustaz Bendri.

Pun dengan kualitas panennya. Untuk mencapai satu kualitas yang baik, maka dia harus memperhitungkan segala hal. Mulai dari berapa banyak air yang mesti diberikan untuk tanamannya, hingga nutrisi apa yang baik diberikan, sampai tanaman tersebut terhidang di piring makan.

“Makanan terbaik yang saat ini dihidangkan di depan kita semuanya atas jerih payah petani. Mereka memang tidak dimunculkan dengan di sosial media sebagai sosok yang luar biasa, tetapi betapa banyak jasa yang kita rasakan hari ini,” tutup Ustaz Bendri.[]