Belajar Mitigasi Bencana Tsunami dari Kearifan Lokal

Walaupun telah berlalu 16 tahun, tsunami Aceh pada Desember 2004 tetap mengingatkan setiap manusia yang masih hidup di muka bumi tentang pentingnya mitigasi.

Dokumentasi kegiatan psikososial yang dilakukan Aksi Cepat Tanggap kepada anak-anak korban tsunami Aceh 2004. (Dok. ACT Aceh)

ACTNews, BANDA ACEH – Belasan tahun tsunami Aceh telah berlalu. Peristiwa itu kini dimaknai sebagai pelajaran berharga. Sebelum 2004, masyarakat banyak yang belum paham tentang tsunami kecuali para ahli kebumian. Sebagian besar masyarakat saat itu gagap menyelamatkan diri. Sistem peringatan dini tsunami di Indonesia pun belum ada. 

Kepala bidang Mitigasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Daryono menjelaskan, keadaan saat itu menjadi salah satu sebab jatuhnya korban jiwa yang sangat banyak hingga 300 ribu orang. “Saat itu, BMKG juga kerepotan menganalisis. Sistem peringatan dini tsunami belum ada. Tidak ada warning, masyarakat belum ada kepedulian terhadap ancaman tsunami,” kata Daryono dalam webinar “Mengenang 16 Tahun Tsunami Aceh dan Mitigasi Bencana ala Masyarakat Lokal” yang diselenggarakan Disaster Management Institute of Indonesia, Sabtu (26/12).

Peristiwa yang diawali gempa bermagnitudo 9,1 itu merobek lapisan bumi sepanjang 1.300 kilometer dalam waktu 12 menit. Selain korban jiwa yang amat banyak, bencana dahsyat itu juga membuat kerusakan lingkungan, trauma, dan kerugian yang sangat besar.

Di balik dampaknya itu, Daryono menerangkan, peristiwa tsunami Aceh 2004 membuka mata dunia dan Indonesia. Tsunami Aceh Desember 2004 menjadi tonggak dibuatnya sistem peringatan dini gempa bumi yang saat ini dilakukan BMKG. Baru pada 2008 Indonesia akhirnya memiliki sistem peringatan dini gempa bumi berstandar internasional.

Daryono melanjutkan, tanpa adanya sistem peringatan dini tsunami saat itu pun, masyarakat yang sadar mitigasi lebih memiliki golden time menyelamatkan diri. Menurut Daryono, masyarakat di sejumlah daerah di Aceh sebenarnya sudah memiliki pengetahun tsunami. Hal itu dibuktikan dengan adanya sejumlah terminologi bahasa Aceh, seperti smong di Simeulue yang berarti gelombang laut besar, ie beuna di Aceh yang berarti air yang tinggi, dan galoro di Aceh Singkil yang berarti ombak besar yang menerjang daratan.


Kisah smong dari Simeulue

Menurut Daryono, kisah smong yang dituturkan turun temurun di masyarakat Simeulue mengilhami konsep mitigasi tsunami yang sangat baik sebagai evakuasi mandiri. Walaupun sudah ada sejak ratusan tahun silam, smong menjadi konsep mitigasi yang amat modern. Ketika mendengar kata smong, masyarakat di Simeulue lari ke atas bukit.

Dosen Geografi sekaligus peneliti kesiapsiagaan bencana berbasis kearifan lokal Universitas Syiah Kuala Ahmad Nubli Gadeng menuturkan, masyarakat Simeulue pantang mengucapkan smong secara sembarangan. “Smong tidak boleh sembarang diucapkan seperti kata copet atau maling. Sebab smong berarti peringatan air laut naik,” katanya. 

Saat musibah tsunami 16 tahun lalu, dari sekitar 715 ribu penduduk Simeulue, hanya tujuh orang yang menjadi korban jiwa. Menurut Nubli, hal itu disebabkan memori kolektif dan literasi kearifan lokal yang masih dimiliki masyarakat Simeulue tentang tsunami. 

Selain kearifan lokal, manusia juga dapat membaca tanda-tanda alam dari gerak para binatang. Saat gempa besar mengguncang Aceh dan sebelum tsunami terjadi, binatang ternak di sekitar pesisir sudah berduyun-duyun melarikan diri.


Menggali kearifan lokal untuk menata mitigasi

Bencana tsunami disebutkan Daryono sebagai kejadian yang berpola. Sejumlah ahli geologi telah membuktikan bahwa sejumlah lapisan karbon di pesisir menunjukkan material laut dalam. Hal itu membuktikan bahwa bencana besar juga pernah melanda suatu tempat di waktu-waktu sebelumnya.

“Salah satu fenomena menarik di Goa Ek Luntie, Kecamatan Lhoong, di Aceh Besar mencatat kejadian tsunami yang pernah terjadi pada masa lalu dan itu berulang. Deposit sedimennya menunjukkan tahun-tahun kejadian tsunami. Artinya, tsunami hebat di aceh itu sudah berulang-ulang, sehingga wajar jika masyarakat Aceh memiliki terminologi-terminologi tertentu. Tsunami di Aceh sangat tinggi pengulangannya dan bisa terjadi lagi nanti,” jelas Daryono.

Sebab itu, menurut Daryono, masyarakat modern saat ini merasa perlu menggali kearifan lokal untuk menata mitigasi. Diperlukan sinergi pengetahuan modern dan kearifan lokal. Tugas masyarakat saat ini adalah merevitalisasi kearifan lokal sehingga adaptif di tengah kemajuan indonesia.

“Kita harus bisa melakukan mitigasi, melakukan adaptasi atas peristiwa geologi ini. Gempa dan tsunami tidak dapat dihentikan,tetapi kita bisa melakukan mitigasi untuk memperkecil risiko. Ini menjadi pelajaran bagi kita agar kita semakin cerdas mengelola lingkungan, beradaptasi dengan alam, sehingga kita bisa selamat saat ada proses-proses alam itu,” tutup Daryanto.[]