Belajar Sikat Gigi, Ada Tawa Bocah Rohingya di Kamp Balukhali

Belajar Sikat Gigi, Ada Tawa Bocah Rohingya di Kamp Balukhali

Belajar Sikat Gigi, Ada Tawa Bocah Rohingya di Kamp Balukhali' photo

ACTNews, COX’S BAZAR - Dari sudut manapun di dalam kamp pengungsian ini, saban hari tak pernah berhenti tawa bocah-bocah Rohingya. Seperti bocah di manapun di dunia, beban masalah tak pernah mereka rasakan. Meski harus memulai hidup di “rumah” baru, rumah berupa bedeng terpal beralas tanah. Meski ayahanda atau malah ibunda telah wafat diburu dan dieksekusi serdadu di tanah kelahiran, Rakhine State, Myanmar.

Apalagi jika sampai membayangkan betapa pelik dan sulit perjalanan mereka mengungsi sebagai pelarian, mengungsi dari kampung halaman di Rakhine State yang dibakar habis, bisa jadi air mata bakal tak sadar merembes dari sudut mata.

Bayangkan apa rasanya, seorang ibu dengan tangan kanannya menggendong bayi baru 30 hari usianya, sembari tangan kiri si ibu menggandeng bocahnya yang lain. Menyusuri setapak dan seberangi sungai untuk melarikan diri dan mengungsi. Sampai tiba di zero line, sebuah gerbang batas yang memisahkan antara Myanmar dan Bangladesh. Seluruh perjalanan itu mungkin membutuhkan waktu lebih dari 3 hari berjalan kaki.

Begitulah nasib bocah Rohingya di kamp-kamp pengungsian ini. Meski nasib begitu buruk menimpa, tapi tawa mereka tetap lugu dan sederhana. Tetapi terkadang, di antara tawa-tawa bocah Rohingya ini, terselip nada batuk, dahi yang panas karena demam, bahkan sampai diare berhari-hari.

Kenyataan ini didapatkan oleh Tim Medis ACT, gabungan dari dokter lokal di Bangladesh, juga dr. Rizal dan dr. Riedha dari Indonesia. Tim Medis ACT melaporkan, ada banyak sekali kejadian bocah Rohingya di kamp-kamp pengungsian mengalami diare, sakit perut, bahkan demam dengan sebab-sebab yang tidak jelas.

Apa pemicunya? Mudah saja melihat, betapa sanitasi bocah-bocah Rohingya ini tak terjaga dengan baik. Tangan mereka kotor karena lumpur. Sebelum makan, mereka tak pernah mencuci tangannya. Apalagi di beberapa kamp pengungsian yang dihuni lebih dari 30 ribu jiwa Rohingya, air bersih masih sulit didapat.

Untuk urusan cuci tangan dengan air bersih pun, si bocah-bocah Rohingya ini tak sampai melakukannya. Apalagi dengan kebiasaan mandi, cuci tangan pakai sabun, sampai sikat gigi menggunakan pasta gigi, tak lagi mereka pedulikan. Wajar jika kemudian bocah-bocah Rohingya di kamp ini amat rentan diserang penyakit diare, demam, bahkan memicu munculkan infeksi kolera.

Di Balukhali, Tim Medis ACT ajari cuci tangan dan sikat gigi

Pagi itu, Senin (23/10) mudah saja memulai tawa bocah-bocah Rohingya ini. Tim Medis ACT bergerak melintasi tanah berlumpur, pintu masuk menuju Kamp Balukhali. Sembari menenteng ember berisi ratusan sikat gigi, gelas-gelas kosong, dan sabun cuci tangan, Tim Medis ACT punya rencana untuk mengajak bocah Rohingya di Balukhali bermain bersama.

Bukan sekadar bermain, tapi bermain sembari belajar cuci tangan yang benar dan sempurna, dilanjutkan dengan belajar sikat gigi menggunakan pasta gigi.

“Ada lebih dari 150 anak yang terdaftar, kami mulai dengan mengajak mencuci tangan bersama menggunakan sabun. Menjaga kesehatan dimulai dari diri sendiri, dimulai dari tangan yang bersih,” kata dr. Riedha, salah satu anggota Tim Medis ACT.

Antusiasme bocah-bocah Rohingya di Kamp Balukhali benar-benar membuncah. Tawa mereka lepas sekali. Menggunakan penerjemah lokal, bocah-bocah Rohingya ini mulai memahami gerakan-gerakan mencuci tangan yang dicontohkan dr. Rizal, Koordinator Tim Medis ACT.

Setelah cuci tangan selesai, bocah Rohingya ini kembali menyerap hal baru, yakni cara sikat gigi yang sempurna dicontohkan oleh semua tim medis ACT. Dengan menggunakan sikat gigi yang sudah dibagikan satu persatu, bocah-bocah Rohingya itu dengan lugu menirukan gerakan menggosok gigi.

Bahkan dr. Rizal mencontohkan menyikat gigi sembari berjoget. Tak ayal tawa bocah Rohingya ini pun semakin lepas.

 “Dimulai dari menjaga kebersihan tangan. Karena penyakit menular mudah timbul karena daya tahan tubuh rendah. Apalagi setiap hari mereka masih harus berjuang mencari bantuan, mencari nasi. Si bocah-bocah ini pun harus tinggal di kamp pengungsian yang panas, sanitasi yang tak layak, dan jarak WC dan sumber air minum yang begitu dekat,” papar dr. Rizal.

Bukan hanya sekali-duakali, aksi penyuluhan tentang sanitasi dan kebersihan diri bakal terus dilanjutkan oleh tim medis ACT di berbagai lokasi kamp lainnya. Masih banyak pekerjaan rumah yang belum tuntas. Tawa lugu bocah-bocah Rohingya itu masih akan terus berulang di berbagai kamp lain, insya Allah. []

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan