Belajar Wakaf Produktif dari Yordania

Belajar Wakaf Produktif dari Yordania

Belajar Wakaf Produktif dari Yordania' photo

ACTNews, JAKARTA - Wakaf produktif menjadi salah satu pilar ekonomi Islam yang berfungsi untuk memberdayakan umat. Namun, banyak dari masyarakat Indonesia yang belum mengetahui tentang wakaf produktif tersebut. Berdasarkan data dari Badan Wakaf Indonesia (BWI), 90% tanah wakaf di Indonesia hanya dimanfaatkan untuk pemakaman, mesjid dan pesantren. Adapun 10% lainnya digunakan untuk kegiatan sosial. Data ini menunjukkan pemanfaatan wakaf di Indonesia masih jauh dari kata produktif. Hal ini berbeda dengan implementasi wakaf di Yordania yang telah memberikan dampak positif bagi pembangunan umat.

Yordania termasuk salah satu negara yang tergolong berhasil dalam mengimplementasikan wakaf produktif. Pengelolaan wakaf di negara ini dikelola dengan rapi dan terintegrasi dengan kegiatan pemerintah. Wakaf di negara berbentuk kerajaan ini dikelola oleh Majelis Tinggi Wakaf yang berada di bawah Kementerian Wakaf dan Urusan Agama, dan langsung diketuai oleh Menteri. Majelis Tinggi Wakaf berfungsi menetapkan usulan-usulan yang ada di Kementerian yang berasal dari Direktur Keuangan. Usulan ini kemudian dibawa oleh Menteri kepada Dewan Kabinet untuk mendapatkan pengesahan. Semua tindakan yang dilakukan oleh Majelis Tinggi Wakaf  berdasarkan pada Undang-undang No. 26 Tahun 1966.

Dalam mengelola wakaf  tersebut, juga terdapat lembaga khusus yang bertugas melakukan studi kelayakan terhadap rencana-rencana pengembangan tanah wakaf. Saran dari tenaga ahli juga dijadikan pertimbangan dalam penggunaan wakaf. Bagi wakif yang ingin memberikan wakaf uang juga dipermudah. Waqif  bisa menyalurkan wakaf melalui transfer Bank Syariah atau datang langsung memberikan wakaf kepada nazhir (pengelola wakaf). Ini memperlihatkan pengelolaan dan penggunaan wakaf di Yordania dikelola dan direncanakan dengan sangat baik.

Praktek wakaf produktif di Yordania

Ketua Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Badan Wakaf Indonesia, Dr. Uswatun Hasanah, MA dikutip dalam www.bwi.or.id menyebutkan, wakaf uang di Yordania dikolaborasikan dengan zakat tanah atau properti. Hasil dari pengelolaan wakaf  kemudian digunakan untuk berbagai keperluan, yaitu pertama, memperbaiki perumahan penduduk di beberapa kota. Kedua, membangun perumahan petani dan pengembangan tanah pertanian di dekat kota Amman. Luas wilayah tersebut yaitu 84 dunum (dunum adalah empat persegi dengan luas kira-kira 900 M2). Dalam wilayah tersebut terdapat 1.600 pohon anggur, zaitun, buah badam dan kurma. Ketiga, mengembangkan tanah pertanian sebagai tempat wisata di dekat Amman. Di tanah pertanian ini terdapat 2300 pohon zaitun, anggur, kurma, dan buah badam. Keempat, membangun sebuah tempat suci di daerah Selatan Yordan dengan luas area 122 dunum dan memiliki 350 pohon Zaitun.

Kementerian Wakaf juga mendirikan Direktorat Pembangunan dan Pemeliharaan Wakaf Islam yang mengelola beberapa proyek pembangunan di Tepi Timur dan Tepi Barat. Di wilayah Tepi Timur dibangun kantor-kantor wakaf di Amman dengan biaya 80.000 dinar Yordania, pembangunan apartemen hunian di Amman dengan biaya 85 ribu dinar, dan beberapa proyek lainnya. Adapun di Tepi Barat juga dibangun kantor-kantor, pertokoan dan pusat perdagangan.  

Dalam mengelola aset wakaf agar menjadi produktif, Kementerian Wakaf Yordania menggunakan beberapa cara yaitu pertama, mengembangkan hasil harta wakaf; kedua, menyewakan tanah-tanah wakaf dalam waktu yang cukup lama; ketiga, Kementerian Wakaf meminjam uang kepada pemerintah untuk membangun proyek-proyek pembangunan tanah wakaf; keempat, menanami tanaman-tanaman di tanah pertanian. Pada tahun 1984, Kementerian Wakaf memperoleh pendapatan mencapai 680 ribu dinar Yordania dari tanah-tanah wakaf yang disewakan. Dan memperoleh 120 ribu dinar Yordania dari tempat-tempat suci.

Dr. Uswatun Hasanah, MA juga menjelaskan, banyak capaian yang diperoleh oleh Kementerian Wakaf Yordania dari pengembangan wakaf tersebut, seperti membuka beberapa lembaga pendidikan tinggi antara lain Fakultas Da'wah, Ushuluddin dan Syari'ah; mendirikan 53 tempat belajar al-Qur'an dan al-Hadis; mendirikan kurang lebih 250 perpustakaan di mesjid-mesjid dan kota-kota kerajaan; pemberian beasiswa dari Kementerian untuk belajar di Universitas Yordania; pendirian lima kantor (seperti Islamic Centre) di kota-kota kerajaan; bantuan ke rumah sakit dan orang yang membutuhkan; menerbitkan buku-buku dan majalah Islam di Amman; mendirikan lembaga Arkeologi Islam dan lembaga peninggalan-peninggalan Islam; dan lainnya.

Capaian yang diperoleh oleh Kementerian Wakaf Yordania ini menjadi contoh praktik pengelolaan wakaf produktif dapat memberikan manfaat lebih kepada masyarakat dan negara. Keseriusan Yordania dalam mengelola wakaf secara produktif juga terlihat dengan terlibatnya pemerintah dalam membantu Kementerian Wakaf. Koordinasi dan tata kelola yang rapi menunjukkan bahwa pengelolaan wakaf di Yordania sudah sangat profesional.

Bentuk pengelolaan wakaf produktif dari Yordania menjadi pemantik semangat bagi Global Wakaf, salah satu nazir wakaf di Indonesia untuk mengelola wakaf secara produktif. Hingga saat ini berbagai program wakaf produktif telah diluncurkan oleh Global Wakaf seperti Lumbung Pangan Wakaf (LPW), Lumbung Ternak Wakaf (LTW), Warung Wakaf, Sumur Wakaf, Wakaf Perahu dan program inovasi wakaf lainnya. Program-program tersebut telah menyasar ribuan maukuf alaihi (penerima manfaat) di berbagai provinsi di Indonesia. Insya Allah inovasi untuk mewujudkan wakaf yang produktif terus diupayakan oleh Global Wakaf seperti yang dilakukan oleh Yordania. []

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan

Terpopuler