Belasan Ribu Liter Air untuk Atasi Kekeringan di Sembalun

Sekitar 13.000 liter air bersih didistribusikan di salah satu dari tujuh titik yang terdampak kekeringan di Desa Sajang, Sembalun.

ACTNews, LOMBOK - Puluhan ibu di Dusun Bawak Nao Lao, Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, bergegas meletakkan ember-embernya di pinggir jalan ketika armada Humanity Water Tank melintas. Berkolaborasi dengan Peace Wind Japan (PWJ), pendistribusian belasan ribu liter air bersih ini menjadi jawaban dari kekeringan yang melanda Desa Sajang. Sudah tiga bulan hujan tidak turun sama sekali di Desa tersebut, sehingga mereka kerepotan beraktivitas akibat air yang mengering.

“Air sama sekali tidak mengalir. Biasanya kami beli air satu tangki itu seratus ribu rupiah dan itu cukup buat seminggu saja, buat MCK dan memasak. Alhamdulillah, kalau air dari water tank ACT ini gratis. Jadi kami tidak perlu keluar uang lagi untuk beli air,” kata Pindiani, salah satu warga yang sedang menunggu ember-embernya penuh air pada Rabu (14/8) lalu.

Sebelum gempa mengguncang Sembalun, Pindiani biasanya mendapatkan air dari pipa-pipa yang dialirkan langsung dari kaki Gunung Rinjani. Namun, menurut Ruslan Abdul Gani selaku Koordinator Humanity Water Tank di Sembalun, pipa-pipa tersebut sudah tak berfungsi lagi semenjak gempa.


Pada hari itu, sekitar 300 kepala keluarga yang mendapatkan air dari dua unit Humanity Water Tank yang berkeliling di Dusun Bawak Nao Lao. Dua armada tersebut dua kali bolak-balik untuk mengambil air terlebih dahulu yang ada di tangki utama di Desa Sembalun Lawang. Jaraknya sekira 16 kilometer dari Desa Sajang.

“Setiap satu kali bolak-balik, itu kita distribusikan sebanyak 1.200 liter air bersih untuk warga dari satu tangki saja. Untuk setiap harinya, kita bisa distribusi hingga 13.200 liter di salah satu titik dari tujuh titik yang kita sebar di Desa Sajang,” kata Ruslan. Ruslan mengharapkan, pendistribusian air bersih secara berkala ini bisa meringankan kekeringan yang sudah beberapa bulan ini melanda wilayah Sembalun.

Pendistribusian air bersih kala itu merupakan tahap kedua yang dilakukan di Sembalun. Tahap pertama dilakukan setelah gempa Lombok hingga akhir tahun 2018 lalu karena pipa-pipa air dari kaki Gunung Rinjani tertimbun longsor, sementara kebutuhan air mendesak karena gempa. Sementara itu, tahap kedua kembali dilakukan pada Maret lalu ketika musim hujan selesai dan masuk pada musim kemarau yang mengakibatkan sungai yang biasa dipakai masyarakat benar-benar mengering. []