Belenggu di Tanah Suaka

Pemerintah Bangladesh menutup akses tiga blok pengungsian Rohingya di Cox’s Bazar setelah 29 orang terkonfirmasi positif Covid-19.

Belenggu di Tanah Suaka' photo
Muhammad Sayid (32) pengungsi Rohingya di Bangladesh yang tinggal di Kamp Kutupalong di Cox’s Bazar. (ACTNews/Rahman Ghifari)

ACTNews, COX’S BAZAR – Sedikitnya 15.000 pengungsi Rohingya harus menjalani karantina. Pemerintah Bangladesh mengumumkan jumlah pengungsi yang terinfeksi Covid-19 meningkat menjadi 29 orang, sebagaimana dikabarkan Al Jazeera, Selasa (26/5).

Keadaan itu semakin diperburuk dengan sanitasi yang tidak memadai. Bangunan tempat tinggal pengungsi yang bersifat sementara pun tidak bisa menjadi banteng pertahanan.

“Kalau musim panas, masjid atau bangunan-bangunan di sini (kamp pengungsi Rohingya Cox’s Bazar) pun mengantarkan hawa panas. Kalau musim hujan juga bocor,” jelas Andi Noor Faradiba dari tim Global Humanity Response – ACT.

Faradiba menjelaskan, regulasi pemerintah Bangladesh memang tidak mengizinkan pengungsi Rohingya mendirikan bangunan permanen. Sebab itu, perbaikan berkala dan terus menerus amat dibutuhkan oleh mereka.

“Sarana seperti ini tidak memadai, harus butuh reparasi dan pembaruan setiap saat. Ini juga membuat hidup mereka tidak selalu tenang walaupun mereka sudah meninggalkan tempat asalnya yang berbahaya. Berpindah tidak otomatis membuat hidup mereka tenang, sebab itu mari kita bantu agar mereka hidup lebih baik di pengungsian ini,” jelas Faradiba.

Selain tempat tinggal, keluhan sanitasi dan kesediaan air bersih juga disampaikan Mahmoud Sayid (32). Ia dan keluarganya tiba di Bangladesh 2017. Maret lalu, ACT menemui ayah tiga orang anak itu. Sayid berharap, seandainya mereka memiliki panel surya, itu akan lebih membantu kehidupan pengungsi Rohingya mendapatkan air bersih.

“Untuk toilet pun tidak memadai, kami memilih pergi ke toilet di masjid yang ACT bangun untuk mandi dan buang air,” jelas Sayid kepada ACTNews melalui penerjemah.

Selain itu, kecukupan makan para pengungsi belum tentu dapat menjaga kesehatan mereka. Sayid mengaku, mereka hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah Bangladesh atau pun lembaga kemanusiaan. Masih banyak hal yang membelenggu kehidupan Rohingya walau mereka berikhtiar mencari penghidupan lebih baik di tanah suaka.

Mahbubur Rahman, salah satu anggota Otoritas Kesehatan Cox's Bazar mengaku sangat khawatir dengan kehidupan pengungsi Rohingya. “Kami sangat khawatir karena jumlah pengungsi di kamp sangat membludak. Kami memperkirakan, transmisi lokal (virus corona) sudah dimulai di kalangan para pengungsi,” kata Rahman kepada AFP. Menanggapi hal itu, sejumlah organisasi kemanusiaan pun mengimbau agar masyarakat dunia turut membantu pengungsi Rohingya dengan fasilitas kesehatan dan makanan bergizi.[]


Bagikan

Terpopuler