Belum Berhasil di Ibu Kota, Syamsuri Pilih Kembali Bertani

Selepas SMP, Syamsuri mengadu nasib ke ibu Kota. Namun, ia kembali setelah tak menemukan rezekinya di sana, dan memulai lagi dunia tani yang sudah diakrabinya sejak kecil.

Syamsuri menghidupi istri dan anaknya dari bertani. (ACTNews)

ACTNews, PONOROGO – Syamsuri (42) lahir dari keluarga tani. Masa kecil hingga dewasa ia habiskan untuk membantu orang tuanya mengelola sawah. Namun, setelah tamat SMP, ia mencoba peruntungan dengan meninggalkan Ponorogo. Syamsuri mengadu nasib sebagai tenaga servis AC di Ibu Kota Jakarta. 

Namun mengadu nasib di Jakarta bukan hal mudah. Belum berhasil memenangkan pertarungan di Ibu kota, Syamsuri balik kampungnya, di Desa Semanding, Kecamatan Kauman, Ponorogo. Ia memutuskan untuk mengolah sawah milik orang tua seluas 1,5 kotak atau sekitar 1900 meter persegi. Dari hasil sawah itu, ia menghidupi istri dan anaknya yang masih duduk di bangku kelas 5 SD.

Istrinya Syamsuri pun membuka warung kecil di rumah guna menambah ekonomi keluarga. “Semua kami lakukan demi menyambung hidup sehari-hari, terlebih di masa pandemi Covid-19 ini,” kata Syamsuri.

Membantu Sawah Syamsuri

Membantu perjuangan Syamsuri, Global Wakaf–ACT menyalurkan bantuan Wakaf Sawah Produktif. Dipo Hadi Waskita dari Tim Program Global Wakaf – ACT Jawa Timur menuturkan, program bantuan Wakaf Sawah Produktif menjadi ikhtiar membangun harapan baru bagi petani.

“Petani Syamsuri sebagai salah satu penggawa pangan perlu kita bantu agar beliau lebih giat dan bisa memaksimalkan pengelolaan sawahnya. Hal ini juga mencegah pinjaman riba yang biasanya menjadi pilihan para petani. Insyaallah, kami juga akan melakukan pendampingan,” ujar Dipo.

Wakaf Sawah Produktif saat ini menjadi salah satu hulu Gerakan Sedekah Pangan Nasional yang bertujuan membentuk kedaulatan pangan negeri. Selain memberdayakan petani sebagai produsen pangan, Wakaf Pangan Produktif akan berhilir bagi mereka yang membutuhkan.[]