Belum Pulih karena Pandemi, Usaha Sahrul Hancur Dihantam Gempa

Belum bangkit karena Pandemi, pada Januari lalu, usaha Sahrul, warga Simboro, Kabupaten Mamuju.terpaksa hancur karena guncangan gempa.

Rumah rusak
Sahrul menunjukkan rumah dan warungnya yang hancur karena gempa. (ACTNews)

ACTNews, MAMUJU – Gempa Mamuju dan Majene Januari lalu membuat sejumlah warung dan toko hancur diguncang gempa. Ekonomi pelaku usaha pun terganggu.

Salah satu tempat usaha yang mengalami kerusakan ialah milik Sahrul (39) warga Lingkungan Korongana, Simboro, Kabupaten Mamuju. Sahrul merupakan seorang pedagang kelontong yang membuka warung di rumahnya. Akibat gempa, tempat usaha yang juga menjadi tempat usaha roboh. “Belum ada dananya buat renovasi,” kata Sahrul kepada tim Global Wakaf-ACT pada akhir Februari lalu.

Warung dan rumah yang hancur kembali membuat perekonomian keluarga Sahrul terganggu. Padahal saat itu, ia tengah mencoba kembali bangkit setelah pandemi Covid-19 membuat sepi warungnya,

Sejak 2011, Sahrul merintis warung kelontong. Modal awalnya sebesar Rp 1 juta. Saat keadaan baik, ia bisa mendapat penghasilan bersih Rp 60 ribu sampai ratusan ribu sehari. Namun, sejak Covid-19 mewabah sejak Maret 2020 lalu, penghasilan Sahrul turun sampai turun 50 persen.

“Sejak Corona dapat uang paling 30 ribu (rupiah). Saya sudah sangat bersyukur. Namun, saat warung hancur karena gempa, enggak ada uang yang didapat karena enggak bisa jualan,” lanjutnya.

Sekarang, Sahrul tengah membersihkan puing rumah dan warungnya yang runtuh sambil perlahan memperbaiki rumah dari uang yang tersisa. Ia pun baru saja mendapatkan bantuan modal usaha dari Global Wakaf-ACT melalui program Wakaf Modal Usaha Mikro Indonesia pada Selasa (23/2/2021) minggu lalu. Dengan modal yang berasal dari wakaf masyarakat ini, Sahrul berencana membuka warung kembali untuk mencari nafkah.[]