Berangkat dari Konsep Saling Berbagi

Beragam aktivitas sosial kini digeluti Yuly (37), seorang ibu rumah tangga yang juga guru TK di Depok. Sejak remaja ia telah aktif dalam berbagai aktivitas sosial. Konsep berbagi dalam Islam menjadi alasannya.

Berangkat dari Konsep Saling Berbagi' photo
Yuly (kiri) menyerahkan paket lebaran ke yatim di sekitar rumahnya di Depok. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, DEPOK – Yuly Rayanty (37) terlihat sibuk menyiapkan bingkisan yang baru datang dari Wakaf Distribution Center (WDC) ACT di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. Bingkisan itu merupakan paket Lebaran yang akan diserahkan ke 90 anak yatim binaan Yuly di kawasan Kampung Areman, Kelurahan Tugu, Cimanggis, Depok. Hari itu, Senin (25/5), merupakan hari kedua Idulfitri, tapi tak menjadikan alasan untuk Yuly libur dari aktivitas sosialnya.

Perempuan yang juga guru taman kanak-kanak ini merupakan pembina dari anak-anak yatim, khususnya yang berada di lingkungan tempat tinggalnya. Jumlahnya kini telah mencapai puluhan anak. Jika ditotal sejak tahun 2005, awal ia membina yatim di Depok, mungkin jumlahnya sudah mencapai ratusan. “Sekarang yatim binaan saya banyak yang sudah dewasa bahkan berkeluarga,” ungkap Yuly, Senin (25/5).

Ketika ditanyakan motivasinya peduli pada yatim, Yuly mengatakan, konsep berbagi dalam Islam yang diajarkan padanya sejak kecil menjadi alasan. Ibu dua ini merupakan mualaf saat usianya masih duduk di sekolah dasar, tapi orang tua Yuly telah mengenalkan Islam jauh sebelum ia ikut memeluk Islam. “Ayah saya mengenalkan Islam itu sebagai agama yang saling berbagi. Dengan sedekah, hidup kita akan berkah. Tak selalu banyak harta, tapi hidup kita akan dimudahkan dalam segala urusan jika bersedekah,” kenang Yuly.

Sejak tahun 2005 itu, Yuly terus memfokuskan perhatiannya pada kondisi anak-anak yatim. Tiap kali ia bertemu dengan yatim di jalan atau di tempat lainnya, ia selalu coba ajak untuk ke jalan yang lebih baik lewat pembinaan agama serta keterampilan. Bekerja sama dengan dinas terkait serta sekolah-sekolah, Yuly coba mengembangkan potensi yatim serta kelangsungan pendidikan mereka. Di samping itu, Yuly juga menyisihkan gajinya sebagai guru untuk memenuhi kebutuhan yatim.

Berbagai tantangan pun ia hadapi selama perjuangannya untuk sesama ini. Menurutnya yang paling berat ialah ketika mengetahui anak yatim yang dibinanya merasa lapar serta pemenuhan pendidikannya kurang. Untuk itu, ia selalu membagi apa pun yang ia punya, mulai dari keterampilan memasak hingga mendorong anak-anak yatim untuk mengejar ujian paket jika tak sempat sekolah. “Kalau momen yang paling enggak bisa dilupakan itu ya berkumpul sama mereka (yatim). Karena jadi tempat curhat mereka serta melihat mereka tertawa itu sangat menyenangkan,” ujar Yuli.

Beragam cita-cita bersama yatim pun ingin Yuly wujudkan, salah satunya ialah membangun rumah bagi mereka. Rumah itu nantinya bakal Yuly manfaatkan sebagai pusat pendidikan serta tempat tinggal yatim.

Beragam aktivitas sosial

Saat ini, Yuly merupakan salah satu relawan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Kota Depok. Ia bergabung pada 2017. Berbagai aksi kemanusiaan telah ia ikuti bersama MRI, mulai dari pendistribusian paket pangan bagi warga di permukiman padat Kampung Lio, Depok, hingga pendampingan medis ke tetangganya.

Akan tetapi jauh sebelum itu, sejak remaja, ia telah mendirikan organisasi yang berfokus pada pembinaan remaja. Menghindari dari narkoba serta perkelahian pelajar jadi fokus utamanya. Selain itu, Yuly juga terdaftar sebagai relawan dinas sosial. Beragam aksi kemanusiaan pun rutin ia ikuti.

“Keluarga saya, khususnya suami, sangat mendukung aktivitas saya. Itulah yang menjadi kekuatan saya,” ungkap Yuly.[]


Bagikan