Berani Mencoba, Kunci Rina Susanti Bangkit dari Kolaps Usaha

Selalu ada jalan keluar jika diri memiliki kemauan. Prinsip itu selalu dipegang Rina Susanti, salah satu ibu wirausaha penerima program Wakaf Modal Usaha Mikro. Rina pun membagikan kunci usahanya bisa kembali bangkit setelah terpuruk pandemi.

Rina Susanti berada di tokonya. Salah satu penerima manfaat program Wakaf Modal Usaha Mirko ini menjual makanan siap santap dan grosir plastik di wilayah Jagakarsa, Jakarta Selatan. (ACTNews/Gina Mardani)

ACTNews, JAKARTA SELATAN – Makan nasi berlauk mi instan atau terigu goreng untuk seluruh anggota keluarga menjadi pengalaman yang mengajari Rina Susanti banyak hal. Penerima manfaat program Wakaf Modal Usaha Mikro itu belajar sabar, bersyukur, hingga kerja keras dari keadaan itu. Kini, Rina bisa memberikan anak-anaknya dengan makanan yang lebih sehat dan bergizi. Omzet jualan makanan dan grosiran plastik naik drastis. Jika pandemi ia hanya bisa mendapat omzet Rp15 - Rp30 ribu, belakangan, dari kedua usahanya itu bisa beromzet Rp11 juta.

“Yang paling terasa sih soal mindset ya. Saat terpuruk kita masih ada yang mendukung, memotivasi, mengajak untuk tidak lagi terjebak riba,” cerita Rina kepada ACTNews, Kamis (10/12), yang menanyakan perkembangan usahanya setelah mengikuti pendampingan program Wakaf Modal Usaha Mikro.

Rina juga tidak menyangka jika kondisi usahanya sudah mulai pulih. Menurut Rina, kunci dari perbaikan usaha itu adalah jangan takut mencoba dan selalu ada jalan jika ada kemauan.


Rina Susanti, penerima Wakaf Modal Usaha Mikro Global Wakaf-ACT, tengah menyiapkan pesanan ayam bakar di warungnya, Kamis (10/12). (ACTNews/Gina Mardani)

Ibu tiga orang anak ini melanjutkan cerita, awal bisnisnya mulai bangkit lagi yaitu saat lebaran Idulfitri. Kala itu, ia mendapat bayaran tunai untuk pesanan kue lebaran. Perlahan, terbuka kembali jalan rezekinya yang sempat dikubur pandemi.

“Waktu itu ada yang pesan kue kering, buat parsel. Senang banget saya. Dia beli banyak, kata dia ‘segini dapat berapa toples?’ Lalu saya buat tiga macam. Saat itu saya akhirnya juga berani menawarkan ke yang lain,” katanya.

Berbisnis makanan bukan kali ini Rina coba. Ia pun pernah membuka warung makan sejak 2016. Namun sempat vakum. Rina juga bergabung dengan bazaar umkm untuk meluaskan masakannya yang beragam: ayam geprek, ayam bakar, mie tiaw, rice ball, nasi goreng, minuman sari kacang hijau, sari kacang merah.

Jasa boga yang ia beri nama Bunda Sofwan itu bahkan sudah memiliki pelanggan tetap. Ia membuka warung sederhana berbekal etalase di rumahnya, wilayah Jagakarsa. Saat kedatangan ACTNews kemarin, warung Bunda Sofwan sedang mengalami perbaikan. Rina pun berencana menambah kursi untuk pembeli makan di tempat ketika pandemi usai.

Bener deh, ini juga berkat dukungan Global Wakaf-ACT. Saya dibantu modal, didampingi, ada pelatihan juga,” aku Rina. Ia pun mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah membantu para pelaku usaha mikro seperti dirinya. Sebab dari usaha yang terlihat kecil itu, Rina mampu melakukan hal besar untuk keluarganya.[]