Berapa, Siapa dan Kapan Menunaikan Zakat Fitrah

Membayar zakat fitrah menjadi kewajiban yang harus ditunaikan saat Ramadan. ACTNews telah merangkum tiga hal yang perlu diketahui terkait zakat fitrah.

bayar zakat fitrah
Ilustrasi. Menunaikan zakat fitrah melalui Global Zakat di laman globalzakat.id. (Freepik)

ACTNews, JAKARTA – Zakat fitrah menjadi salah satu kewajiban yang harus ditunaikan saat Ramadan. Di Indonesia, umumnya masyarakat membayar dengan beras karena merupakan makanan pokok masyarakat atau dengan uang yang lebih praktis dan memiliki beberapa keunggulan.

Akan tetapi, ada beberapa hal yang perlu diketahui tentang zakat fitrah. Seperti, berapa ukuran zakat fitrah, siapa saja yang wajib membayar serta waktu pelaksanaan. Berikut ini, ACTNews telah merangkumnya:

Ukuran zakat fitrah

Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda bahwa zakat fitrah ditunaikan dengan 1 sho’ menggunakan makanan pokok seperti gandum atau beras. Satu sho’ sendiri adalah 4 mud, sedangkan 1 mud adalah 510 gram.

"Terkait ukuran 1 sho’, para ulama memiliki banyak pendapat dalam menentukannya. Pendapat mereka rentang 2,5-2,78 kilogram. Untuk amannya 1 sho' sama dengan 3 kg makanan pokok. Jika berlebih, semoga diterima Allah sebagai sedekah," jelas Ustaz Bobby Herwibowo yang juga merupakan Dewan Syariah Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jumat (8/4/2022).  

Selain menggunakan makanan pokok, zakat fitrah juga bisa ditunaikan menggunakan uang. Penjelasan tentang zakat fitrah menggunakan uang, bisa baca di halaman ini.

Siapa yang wajib menunaikan zakat fitrah?

Ustaz Bobby menjelaskan, orang yang wajib menunaikan zakat fitrah adalah semua pribadi yang hidup, baik merdeka atau budak, pria atau wanita, besar ataupun kecil. Bayi pun termasuk yang wajib menunaikan zakat fitrah. 

"Bagaimana dengan orang miskin? Seperti disebutkan dalam hadis, budak wajib untuk menunaikan zakat fitrah. Demikian juga orang miskin, ia wajib bayar zakat fitrah sesuai kemampuan yang ia memiliki," kata Ustaz yang bisa disapa Usbob ini.

Sementara itu, menurut Pengasuh Pesantren Al-Bahjah, Buya Yahya, menukil pendapat Imam Syafi’i, seseorang diwajibkan membayar zakat fitrah jika menemui Ramadan dan malam Idulfitri. Jika tidak menemui salah satunya, maka tidak diwajibkan membayar zakat fitrah.

“Jadi kalau ada seseorang meninggal di waktu akhir bulan Ramadan sebelum magrib maka tidak wajib membayar zakat fitrah karena tidak menemui malam Idulfitri. Begitu pun jika ada bayi lahir sesudah waktu magrib di hari terakhir Ramadan, maka tidak wajib bayar zakat fitrah,” jelasnya.

Sedangkan, tambah Buya Yahya, bagi yang meninggal setelah magrib di hari terakhir Ramadan wajib membayar zakat. Sementara itu, bagi bayi yang lahir sebelum azan, juga harus membayar zakat, karena ia sempat menemui Ramadan dan merasakan malam Idulfitri.

Waktu pembayaran zakat fitrah 

Pembayaran zakat fitrah yang paling utama adalah sebelum berangkat Shalat Idulfitri. Pendapat lain mengatakan, sejak matahari terbenam di akhir Ramadan. Bahkan ada pendapat ulama yang menyampaikan bahwa zakat fitrah bisa ditunaikan sejak awal Ramadan. 

"Sebab perintah zakat fitrah berkaitan dengan perintah puasa Ramadan, maka sejak awal Ramadan diperbolehkan untuk menunaikannya," pungkas Ustaz Bobby Herwibowo.[]