Beras LPW Jadi Penunjang Aktivitas Rice Truck

Rice Truck tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan masyarakat prasejahtera, namun juga memberdayakan petani binaan Lumbung Pangan Wakaf (LPW). Pasalnya, beras yang didistribusikan disuplai langsung dari petani LPW.

Beras LPW Jadi Penunjang Aktivitas Rice Truck' photo
Ahyudin selaku Ketua Dewan Pembina ACT bersama penerima manfaat ketika menguji coba Rice Truck. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, BANDUNG - Ketika memperkenalkan Rice Truck, Layanan Beras Gratis dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Kota Bandung pada Jumat (18/10) lalu, Ahyudin selaku Ketua Dewan Pembina ACT, mendemonstrasikan bagaimana cara dispenser yang ada di truk tersebut bekerja. Ia menempelkan kartu Pengenal Frekuensi Radio (RFID) sehingga beras sebanyak 5 liter bisa otomatis keluar dari truk tersebut.

Ahyudin kemudian menyebutkan nama kartu itu, yakni Global Wakaf Card. Bukan tanpa alasan, beras yang berada di dalam truk berkapasitas 10 ton tersebut, berasal dari beras-beras hasil pengelolaan Lumbung Pangan Wakaf (LPW) binaan Global Wakaf.

“Ini kita beri nama Global Wakaf Card karena beras yang ada di dalam truk ini didatangkan dari LPW. Setiap penerima manfaat nanti, akan memegang yang namanya Global Wakaf Card,” jelas Ahyudin sambil menunjukkan kartu itu.

Lebih lanjut Danu Putra Anugrah, salah satu dari dari Tim Pengadaan Rice Truck, mengatakan bahwa keterkaitan antara kedua program ini adalah masyarakat terbantu dari segi pemenuhan pangan dan pemberdayaan ekonomi lewat wakaf.


Petani mengelola beras-beras yang baru diproduksi di Lumbung Pangan Wakaf. (ACTNews/Reza Mardhani)

“Untuk berasnya sendiri kita dari LPW. Kenapa harus dari LPW? Jadi kita ingin menyentuh dan juga memberdayakan masyarakat. Jadi diolah dulu di hulernya LPW, baru nanti akan kita distribusikan lewat Rice Truck. Ini dari wakaf untuk masyarakat,” kata Danu.

Teknologi huler, atau mesin pemisah beras dengan gabah, adalah untuk menjadikan beras itu premium. Premium berarti beras yang benar-benar putih dan utuh tanpa kulit ari yang menempel lagi pada beras. Hal ini diterangkan oleh Didit Sulistyo, supervisor yang bertanggung jawab atas produksi beras di LPW,

“Setelah terpisah antara beras dan gabah, kemudian kita masukkan kembali ke dalam mesin poles berasnya, agar jadi beras premium. Kemudian kita pisahkan lagi dengan mesin otomatis agar terpisah antara mana beras utuh dan beras pecah untuk kemudian kita taruh di penampungan dan kita kemas,” jelas Didit.

Catatan Didit terakhir kalinya, yakni pada pertengahan Juli lalu, produksi LPW per harinya bisa mencapai sedikitnya 25 ton untuk didistribusikan ke PT Hydro Perdana Retailindo. Produksi ini dapat memenuhi kapasitas maksimum Rice Truck yang sejumlah 10 ton.

Sementara menurut Didit, sisi pemberdayaannya adalah pembelian beras dari masyarakat oleh LPW. Untuk memenuhi produksi 25 ton tersebut, pihak LPW mengadakan koordinasi untuk menampung hasil panen para petani kemudian dihargai lebih tinggi daripada harga di pasaran.

“Pengaruhnya sangat besar sekali untuk masyarakat karena LPW ini bisa menyetabilkan harga. Jadi saat musim hujan misalnya, harga dari pasaran itu bisa rendah. Tapi kalau di LPW, meskipun harga (gabah) turun, itu bisa kami stabilkan. Setidaknya jangan sampai harganya jatuh,” kata Didit. []

Bagikan

Terpopuler