Beras untuk Korban Gempa dan Kebakaran Pulau Bungin

Beras untuk Korban Gempa dan Kebakaran Pulau Bungin

ACTNews, SUMBAWA – Bagi sebagian besar warga Pulau Bungin, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, momen gempa besar 19 Agustus lalu, mungkin bakal sulit untuk dilupakan. Tak ada yang menyangka, duka gempa dari Pulau Lombok bisa sampai juga ke Pulau Bungin, pulau yang dijuluki salah pulau terpadat di dunia. Malam itu, sebulan lalu, Ahad (19/8) gempa dengan kekuatan besar 6,9 SR mengguncang wilayah Lombok Timur. Guncangannya terasa betul hingga ke Pulau Bungin.

Nahas, di malam gempa itu pula hanya berselang menit pascagempa, kebakaran besar melanda puluhan rumah di Pulau Bungin. Sebuah tembok rumah warga ambruk dan menimpa kabel listrik, percikan apu pun menyambar dan memicu kobaran api. Total sebanyak 24 rumah terbakar habis, sejumlah rumah lain pun mengalami kerusakan sedang hingga berat akibat gempa yang terjadi di waktu bersamaan.

Masih ada duka di Pulau Bungin

Pulau Bungin, sebuah pulau yang berada di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, NTB. Jaraknya dari pusat kota Sumbawa Besar sekira 74 kilometer atau satu setengah jam melaju dengan kendaraan darat. Kini, tepat sebulan pascagempa dan kebakaran hebat di Pulau Bungin, Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang berposko di Sumbawa, kembali singgah dan menyapa Pulau Bungin.

Gusti Arsyad, salah satu relawan ACT yang bertugas di Posko ACT Sumbawa melaporkan, Selasa (18/9) timnya bergerak menuju Pulau Bungin untuk melakukan distribusi logistik. “Dari Posko ACT di Jalan Raya Lintas Tano, Dusun Hijrah, Desa Usar Mapin, Kecamatan Alas Barat, kami membawa amanah logistik untuk Pulau Bungin. Bantuan yang dibawa berupa beras dan air mineral,” tutur Arsyad.

Bantuan logistik untuk Pulau Bungin diterima langsung oleh Muksin selaku Kepada Desa Pulau Bungin. “Saya terima bantuannya, mudah mudahan pemberian ini diterima Allah swt. Dipanjangkan umurnya,” ucap Muksin selagi menerima Tim ACT di rumahnya yang menyesak bersama ribuan rumah lainnya di Pulau Bungin.

Untuk diketahui, Pulau Bungin memang memiliki keunikan tersendiri terkait dengan populasi penduduknya. Pasalnya, pulau yang kini telah terhubung jembatan langsung dengan Pulau Sumbawa itu dinobatkan sebagai pulau terpadat ketujuh di dunia.

Luas Pulau Bungin hanya 8,5 hektar, namun pulau ini kini dihuni lebih dari 3.600 jiwa. Kepadatan pulau ini benar-benar nampak jelas ketika difoto dari udara. Rumah-rumah sederhana dibangun di atas gundukan pasir dan karang, rumah dibangun saling berdempetan tanpa ruang yang tersisa. Bahkan menurut Gusti Arsyad, satu rumah di Pulau Bungin bisa dihuni dua sampai tiga keluarga sekaligus.

“Beras yang kami bawa dari posko ACT dibagikan untuk seluruh keluarga korban kebakaran di Pulau Bungin. Masing-masing keluarga korban kebakaran mendapat 10 kilogram beras, jumlah keluarga yang rumahnya terbakar mencapai 35 KK dari 24 rumah. Sementara itu, korban gempa penerima manfaat beras di Pulau Bungin mencapai 967 KK dari tiga dusun dan 15 RT,” jelas Gusti Arsyad.

Pascagempa 19 Agustus silam, walau tinggal berhimpit dalam pulau terpadat di dunia, namun warga Pulau Bungin yang mayoritasnya merupakan Suku Bajo tetap berusaha bangkit dari musibah.

Tim ACT yang bersiaga di Sumbawa pun dalam semangat yang sama, “tak hanya Lombok yang bisa pulih kembali, tapu juga ribuan keluarga terdampak gempa di Sumbawa juga harus bangkit,” pungkas Gusti Arsyad. []

Tag

Belum ada tag sama sekali