Beras Wakaf Bantu Ketersediaan Pangan Selama Pandemi Covid-19

Merespons pentingnya ketahanan pangan di masa darurat Covid-19, ACT dan Global Wakaf berikhtiar membantu masyarakat dengan menyediakan beras wakaf gratis.

Beras Wakaf Bantu Ketersediaan Pangan Selama Pandemi Covid-19' photo
Global Wakaf dan ACT Jawa Tengah panen raya beras wakaf di Blora. (ACTNews/Dananto Riski Nugroho)

ACTNews, BLORA – Dampak pandemi Covid-19 di Indonesia mengakibatkan ketidakstabilan dari bebagai sektor. Selain sektor dunia kesehatan, kini secara makro sektor perekonomian pun terguncang. Harga kebutuhan pangan semakin melambung bahkan di beberapa daerah mulai terjadi kelangkaan.

Merespons pentingnya ketahanan pangan di masa darurat Covid-19, ACT dan Global Wakaf berikhtiar membantu masyarakat dengan menyediakan beras wakaf gratis. Melalui Lumbung Beras Wakaf (LBW) yang ada di Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, puluhan ton beras wakaf mulai didistribusikan pada Kamis, (26/3) malam.

“Alhamdulillah hasil dari panen raya di LBW sudah mulai dibagikan malam ini di Semarang, Solo, Yogyakarta, Tegal, Purwokerto, Jakarta dan kota lainnya jika nanti dibutuhkan,” ungkap Giyanto selaku Kepala Cabang ACT Jawa Tengah.

Rencananya lanjut Giyanto, beras wakaf juga akan dibagikan secara gratis kepada keluarga prasejahtera. “Sementara pasokan beras sisanya akan kami masak menggunakan armada Humanity Food Truck. Nasi, lauk pauk, dan Air Minum Wakaf, insyaallah akan didistribusikan kepada para pahlawan medis yang telah berjuang di garda terdepan dalam penanganan wabah Corona di berbagai rumah sakit,” tambah Giyanto.

Panen raya beras wakaf sendiri telah dimulai sejak Kamis (19/3) lalu. Jajang selaku Penanggung Jawab LBW menargetkan sebanyak 240 ton beras wakaf mampu dihasilkan pada masa panen ini. 

“Semua padi dibeli langsung dari petani lokal yang sudah kita bina. Mulai dari proses panen di sawah, lalu gabah masuk ke gudang LBW untuk digiling menjadi beras, kemudian dikemas hingga didistribusikan. Semua proses itu tidak luput dari peran pemberdayaan masyarakat yang dikelola secara profesional oleh Global Wakaf-ACT,” papar Jajang.

Dengan adanya pemberdayaan masyarakat, Jajang berharap roda perekonomian mampu berputar secara seimbang dari hulu ke hilir. “Kami mencoba memutus mata rantai sistem tengkulak yang cenderung merugikan petani. Global Wakaf-ACT berkomitmen membeli hasil panen petani dengan harga lebih tinggi daripada para tengkulak. “Dan benar saja, banyak petani yang kemudian berbondong-bondong mendatangi LBW meminta agar panen padi di sawahnya dapat bermitra dengan Global Wakaf-ACT,” pungkas Jajang. []


Bagikan