Beratnya Pandemi Tak Patahkan Ikhtiar Heni

Berjualan kue basah, bakpao, dan akar kelapa, selama 3 tahun ke belakang, usaha Heni Nurhasanah (38) yang menjadi penghasilan tambahan keluarga mereka harus berhenti akibat pandemi. Sampai satu ketika ia bahkan tak mampu membayar listrik dan harus meminjam kepada saudara akibat usahanya dan pekerjaan suaminya sama sekali terhenti.

Heni bersama produk bakpaunya yang sudah jadi. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA – Kue basah, bakpao, dan akar kelapa yang menjadi dagangan andalan Heni Nurhasanah (38) selama 3 tahun ini. Ia menitipkan berbagai kue tradisional tersebut di kantin-kantin sekolah dan kantor suaminya. Hasil penjualannya ia gunakan untuk membantu memenuhi biaya hidup keempat anaknya Empat anak yang masih sekolah.

Tetapi semenjak awal tahun, sekolah libur begitu juga dengan kantor suaminya yang tutup sementara. Pandemi mengunci rezeki Heni. Penghasilannya turun jauh semenjak pandemi merebak luas. “Iya bingung juga mas, sekolah-sekolah libur, kantor suami ditutup sementara. Penghasilan pun turun jauh banget,” keluh Heni.

e

 

 

 

Suami yang bekerja sebagai supir sering sakit karena mempunyai sakit diabetes pun sempat dirumahkan oleh kantornya selama dua bulan. Sehingga untuk mencukupi kebutuhan setiap hari dirasakan begitu beratnya, listrik pun sempat tidak terbayarkan selama satu bulan. Sampai pada satu titik Heni harus meminjam kepada saudaranya.


Heni sedang menyiapkan bahan produksinya. (ACTNews)

Pandemi tetap mewabah, tetapi Heni urung menyerah. Ia mencari cara lain dengan membuka sistem pesanan dan warung kecil-kecilan yang menjual makanan ringan dan minuman dingin. Belakangan ujian kembali tiba ketika kulkas yang biasa ia gunakan rusak, dan warung kecil-kecilannya pun saat ini terhenti.

Berikhtiar mendorong kembali usaha Heni kembali berjalan, Global Wakaf – ACT menyalurkan modal usaha kepada Heni pada Kamis (3/9) silam. Dalam kegiatan tersebut, Heni menerima bersama 6 pelaku usaha mikro lainnya. Heni juga berharap jika ada kelebihan dari usahanya, ia akan ikut mewakafkan rezeki tersebut untuk orang lain nantinya.


“Insyaallah kalau dipercaya untuk menerima dana wakaf akan saya pergunakan untuk modal usaha saya yang sempat macet. Insyaallah amanah bisa mengembalikan dan kalau ada rejeki saya akan mewakafkan sebagian untung usaha saya,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Muhammad Albar dari Tim program ACT Jakarta Selatan juga mengajak para dermawan untuk terus mendukung para pelaku usaha mikro yang saat ini menghadapi tantangan penjualan dan permodalan karena pandemi. ”Kami mengajak para dermawan untuk membantu pelaku usaha kecil yang kendala permodalan melalui Wakaf Modal Usaha Mikro. Terutama mengingat saat ini Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kembali berlaku di Jakarta. Mudah-mudahan kita bisa membantu meringankan beban mereka,” harap Albar. []