Berawal dari Mualaf, Fransiskus Toriano Kini Menjadi Pionir Dakwah

Setelah belajar tentang Islam dari pesantren, Fransiskus Toriano akhirnya mengabdikan diri untuk desanya. Ia membantu menghidupkan kembali masjid hingga berdakwah kepada masyarakat.

mualaf dai pelosok
Fransiskus Toriano mengaku mendapatkan hidayah melalui proses pembelajaran. (ACTNews)

ACTNews, LANDAK – Fransiskus Toriano pernah tidak terima ketika orang tuanya memutuskan untuk menjadi mualaf pada tahun 2001. Ia yang saat itu tengah remaja, juga terpaksa masuk pesantren untuk lebih menghemat ekonomi keluarga.

Banyak pandangan buruk pada umat muslim saat itu. Tetapi setelah menimba ilmu dan mempelajari Islam secara sungguh-sungguh, pengalaman mengubah sudut pandangnya. “Setelah saya belajar Islam, barulah saya merasa ada ketenangan dalam hati. Sejak saat itulah saya bertekad untuk mengabdi di kampung,” ujar Toriano ditemui pada Ahad (24/5/2021).

Tekad itu torianao wujudkan dengan membina sebuah majelis taklim Al-Musthofa di Dusun Kepanyang, Desa Sebatih, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. “Kenapa Al-Musthofa? Karena ini menjadi doa dan harapan saya seperti artinya ‘yang dipilih’. Harapannya orang-orang inilah yang dipilih Allah SWT,” harap Toriano. Toriano berdakwah kepada 20 keluarga muslim yang tinggal terpencar-pencar. Sebab itu, ia ingin menyatukan mereka dalam sebuah wadah.

Selain Majelis Taklim Al-Musthofa, ia juga membina dua majelis lainnya di desa-desa tetangga. Kondisi masjid-masjid yang ia datangi saat itu banyak yang tak terurus.


“Saat pertama kali saya datang ke masjid di sebuah desa, masjidnya banyak kotoran kambing karena tidak di urus oleh warga. Pernah juga saat Jumatan yang datang hanya saya sendiri. Ketika tidak orang yang datang untuk Jumatan, dan waktu sudah menunjukkan pukul 12 lewat, terpaksa saya salat di desa sebelah yang berjarak lebih-kurang enam kilometer,” cerita Toriano. Bahkan pernah ia salat Jumat dengan satu Jemaah saja untuk mengajarkan bahwa salat Jumat itu wajib bagi laki-laki.

Seiring berjalannya waktu, kondisi masjid menjadi lebih baik. Pagar dipasang, jemaah pun mulai berdatangan. Ia kini bersyukur, masjid itu punya dua saf jemaah Jumat.


Toriano merupakan salah satu dai di Kalimantan Barat yang menerima apresiasi dari Sahabat Dai Indonesia. (ACTNews)

Toriano merupakan salah satu penerima manfaat dari program Sahabat Da’i Indonesia Global Zakat-ACT yang didukung oleh Motivator Nasional Ippho Santosa. Tim Program Global Zakat -ACT Kalimantan Barat Nicho Dwi Anggoro menjelaskan, berbagai dukungan terus diikhtiarkan Global Zakat-ACT di Kalimantan Barat untuk membersamai para dai buah dukungan kedermawanan masyarakat. "Harapannya dengan adanya program ini bisa mendukung aktivitas para dai yang berjuang menyiarkan agama dengan segala tantangan dan keterbatasannya," kata Nircho.

Selain Toriano, ada 14 dai lain di Kabupaten Landak yang mendapatkan dukungan dari Global Zakat-ACT dan Ippho Santoso di akhir Mei lalu. Nircho juga mengatakan, ia mewakili Global Zakat mengucapkan terima kasih kepada seluruh Sahabat Dermawan yang telah mendukung program baik ini.[]