Berbagai Kiat Membangun Ketahanan Pangan

Bincang-Bincang Aksi Relawan Mandiri Himpunan Alumni IPB (ARM HA-IPB) membahas mengenai ketahanan pangan di Volume ke-3. Berbagai narasumber dari latar belakang profesi yang berbeda mengemukakan pendapatnya sehingga muncul bermacam perspektif yang dapat digunakan untuk membangun ketahanan pangan.

Petani di Siser, Lamongan sedang menyemprot tanaman padinya. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA – Salah satu kondisi yang paling dikhawatirkan dengan berlangsungnya pandemi adalah krisis pangan. Saat ini ditandai melalui program-program dari swasta maupun pemerintah yang menyentuh langsung masyarakat melalui bantuan sosial. Ketahanan pangan menjadi penting, di tengah ekonomi yang bergonjang-ganjing.

Lebih jauh, Bincang-Bincang Aksi Relawan Mandiri Himpunan Alumni IPB (ARM HA-IPB) membahas mengenai ketahanan pangan ini di Volume ke-3. Disiarkan langsung secara daring, para narasumber mengungkapkan pendapat mereka pada Sabtu (12/12) itu. Mereka yakni Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ibnu Khajar, Ajat Sudarjat selaku Kepala Lembaga Program BAZNAS, Dr. Imam B. Prasodjo yang merupakan sosiolog serta Ketua Pengurus Yayasan Nurani Dunia, dan Dr. Bayu Krisnamurthi sebagai Mantan Wakil Menteri Perdagangan RI dan Ketua IPB SDGs Network.

Dr. Imam mengemukakan pendapatnya bahwa pandemi terjadi salah satunya karena kerakusan manusia itu sendiri. Ia mencontohkan bagaimana penelitian mengatakan bahwa Covid-19 berasal dari penyakit dari kelelawar yang dimakan oleh manusia.

Namun di samping kerakusan dan industri yang tak harmoni dengan alam, banyak gerakan kesadaran baru kemudian muncul dan didorong oleh cepatnya persebaran informasi melalui internet. “Jadi di tengah krisis saya melihat muncul gerakan home farming di kota-kota. Gerakan community farming di desa-desa yang tidak hanya dimotori orang desa, tapi juga orang kota ke desa. Inilah yang menjadi harapan, yang harus kita tangkap sekarang ini,” ungkap Imam.


Salah satu contoh home farming di atas atap masjid Al-Ma’rifah, Jakarta Barat. (ACTNews/Reza Mardhani)

Bahkan ada sebuah konsep di mana orang-orang menyantap makanannya langsung di tengah kebun di mana makanan mereka berasal. Orang-orang jadi bisa tahu dan memastikan bahwa yang mereka makan terjaga dan terawat. Momentum ini yang harusnya bisa diraih oleh masyarakat luas.

“Di tengah kita mengalami ancaman pangan, tapi kita ada kesempatan membangkitkan ketahanan pangan melalui home farming dan community farming, dalam arti luas baik di pedesaan maupun di perkotaan. Dan ini harusnya menjadi kesempatan yang positif dan menyelamatkan alam ke depan,” jelas Imam. Namun dengan catatan, para petani pun mendapatkan pendampingan dari orang-orang yang terdidik dengan visi ekologis yang kuat.

Produksi pangan juga yang saat ini didukung Aksi Cepat Tanggap (ACT) melalui program-programnya. Seperti program dari Global Wakaf – ACT yang memberdayakan bidang pertanian. “Kita akan agendakan, tanam raya mulai dari 500 hektare di Malang,  Jawa Timur, itu akan dimulai 26 Desember pekan depan. Kita sudah kerja sama karena alhamdulillah di sana ada beberapa pebisnis yang kita kenal, seperti Pak Heppy Trenggono, lalu ada tokoh politik yang sekarang tokoh masyarakat seperti Pak Marzuki Alie dan lainnya yang aktif di sana,” ujar Ibnu Khajar.


Di samping itu, program ini juga berikhtiar menyejahterakan para petaninya. “Akan ada alternatif juga bagi para petani non-sawah, kami akan aktivasi untuk penanaman porang karena per satu hektare bisa 20.000 tanaman. Dan ini dengan modal sekitar Rp200 juta, kalau dijual dengan hitungan per kilogramnya Rp8 ribu, itu sudah bisa dapat untung sekitar Rp350 juta dalam hitungan sekitar 6-7 bulan,” jabar Ibnu.

Dengan visi besar itu, karenanya Global Wakaf-ACT terus mengajak para dermawan untuk terus berwakaf. “Makanya kami sedang menggalang modal besar-besaran di dalam program Wakaf Pangan Produktif. Ini yang kami lagi ajak masyarakat sebanyak-banyaknya untuk berwakaf. Dana itu akan digunakan untuk permodalan yang per hektarenya membutuhkan dana Rp15 juta,” pungkas Ibnu. []