Berbagi Kebahagiaan Bersama Veteran Indonesia

Berbagi Kebahagiaan Bersama Veteran Indonesia

ACTNews, BANDUNG - Herman namanya. Laki-laki berusia 80 tahunan itu memang tak pernah ikut berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan Republik Indonesia. Namun, Herman berjuang mempertahankan kemerdekaan. Masa genting pascaprokalamasi kemerdekaan Indonesia menjadi ajang Herman sebagai pejuang.

Selasa (11/12), tim Mobile Social Rescue-Aksi Cepat Tanggap (MSR-ACT) berkunjung ke kediaman Herman di Kampung Kiara Sinarwangi, RT 06/05, Desa Pulosari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Ditemani istrinya, Yayah, terlihat mereka sedang bercengkrama di atas dipan lembab juga sudah lusuh. Di depannya, nyala televisi menjadi satu-satunya media hiburan yang menemani mereka setiap hari.

Herman yang berjuang di wilayah Nagreg ini menjadi salah satu contoh pahlawan yang kurang mendapatkan perhatian atas jasa-jasanya. Tinggal di rumah sederhana di sekitar Pangalengan, Herman menghabiskan masa senjanya bersama istri. “Inilah salah satu potret pahlawan kita yang dulu mengorbankan jiwa dan raganya untuk kemerdekaan negara,” ungkap Asep Iqbal dari tim MSR-ACT, Rabu (12/12).

Ketika ditanya keinginannya, Herman hanya mengatakan ingin memiliki kursi yang lebih baik. Kursi itu nantinya akan menggantikan dipan lusuh yang Herman miliki untuk menikmati siaran televisi. “Tim MSR-ACT menghadiahi Pak Herman kursi baru dan uang tunai sebagai tanda terima kasih atas jasanya untuk negeri. Melihat keluarga Pak Herman senang, kami juga senang. Rasanya seperti berbagi kebahagiaan,” tambah Iqbal.

Sebelumnya, pada pertengahan awal November lalu, tim MSR-ACT juga menyambangi kediaman veteran Djuwari. Ia merupakan salah satu dari empat orang pemikul tandu Jendral Soedirman. Area perjuangan Djuwari di sekitaran Nganjuk hingga Kediri di Jawa Timur.

Keluarga Djuwari tinggal di kaki Gunung Wilis, tepatnya di Dusun Goliman, Desa Parang, Kecamatan Banyakan, Kediri. Mereka tinggal di rumah sederhana yang didiami lebih oleh anak, menantu hingga cucu. “Mbah Djuwari dulu memanggul Jendral Soedirman dari desa ini sampai Nganjuk untuk menyelamatkan jenderal guna kepentingan negara,” jelas Dipo Hadi dari Tim MSR-ACT Jateng, Rabu (12/12).

Bertepatan dengan Hari Pahlawan yang jatuh setiap tanggal 10 November lalu, tim MSR-ACT bermaksud memberikan hadiah kepada Mbah Djuwari atas kepahlawanannya. Namun sayang, tim tak berhasil bertemu dan mendengarkan langsung bagaimana tutur Djuwari tentang Soedirman. “Ternyata mbak Djuwari sudah meninggal empat tahun silam, dan kini kami memberikan bantuan kepada keluarganya,” tambah Dipo. []