Berbagi Pangan dengan Keluarga Yatim dan Lansia Uighur

Berbagi Pangan dengan Keluarga Yatim dan Lansia Uighur

Berbagi Pangan dengan Keluarga Yatim dan Lansia Uighur' photo

ACTNews, ISTANBUL - Rangkaian penyaluran amanah kepedulian masyarakat Indonesia bagi penyintas Uighur di Turki terus berlanjut. Melengkapi bantuan pendidikan yang telah diberikan kepada para yatim dan pelajar tahfiz Uighur, bantuan pangan hadir memenuhi kebutuhan dasar puluhan keluarga yatim Uighur di Istanbul, Turki.

Rabu (23/1), para ibu tunggal bergiliran datang ke sebuah swalayan di Kota Istanbul. Membawa Humanity Card, mereka berbelanja beragam kebutuhan pangan yang dapat keluarga mereka konsumsi selama 2-4 minggu. Salah satunya adalah Hamidah, yang pergi meninggalkan Xinjiang menuju Istanbul pada 2016.

Sore itu, Hamidah berbelanja panganan pokok seperti telur, biskuit, kacang-kacangan, dan gula. “Alhamdulillah, ini bisa untuk makan saya dan anak saya di rumah sampai mungkin dua minggu,” kata Hamidah.

Selain Humanity Card, bantuan juga diberikan dalam bentuk paket pangan berupa beras, tepung, dan minyak sayur dengan total sekitar 20 kilogram. Dua bentuk pemberian bantuan pangan ini sesuai dengan kebutuhan masing-masing keluarga yang membutuhkan. Hal ini disampaikan oleh Sucita Ramadinda dari Tim Sympathy of Solidarity (SOS) untuk Uighur I.

“Beberapa keluarga ada yang amat membutuhkan tiga makanan pokok seperti beras, tepung, dan minyak. Beberapa keluarga lainnya ada yang butuhnya panganan pelengkap lainnya seperti kacang-kacangan, gula, biskuit, dan teh. Jadi masing-masing keluarga mendapatkan apa yang mereka butuhkan,” jelas Suci, Rabu (23/1).

Bantuan pangan tersebut tidak hanya didistribusikan kepada keluarga yatim, namun juga untuk para lansia Uighur. Paket-paket pangan diantarkan langsung ke kediaman mereka dan disambut hangat oleh para pemiliknya.

Khadijah tak menyangka kehadiran tamu jauh yang serta merta membawa sepaket sembako seberat 20 kilogram. “Alhamdulillah ya Allah, jazakumullah khair,” seru Khadijah, yang malam itu tengah merawat suaminya yang lumpuh total selama 10 tahun.

Haru juga dirasakan Meryem, lansia Uighur yang tinggal bersama anak bungsunya di Istanbul. Ia pun tak sabar membuka paket pangan yang baru diterimanya. “Terima kasih banyak sudah mengunjungi kami di sini dan mengantarkan paket pangan ini. Ini sangat bermanfaat buat kami. Semoga Allah membalas kebaikan kalian, untuk ACT dan masyarakat Indonesia,” ungkap Meryem, yang telah ditinggal suaminya sejak 2004 lalu. Almarhum suaminya ditahan di kamp reedukasi dan dikabarkan telah wafat.

Hingga kini, dukungan morel dan materi senantiasa diberikan kepada diaspora Uighur yang turut terkena dampak krisis kemanusiaan di negeri asal mereka. Selain diaspora Uighur di Turki, bantuan kemanusiaan dari masyarakat Indonesia juga telah didistribusikan kepada diaspora Uighur di Uzbekistan. []

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan